PERKEMBANGAN PEMIKIRAN UMAT ISLAM TENTANG IMAN

A. SEJARAH IMAN UMAT MANUSIA
Berdialektika tentang iman, maka terdapat pertanyaan besar yang jawabannya dapat menjadi suatu sintesa dan paradigma atas iman umat manusia. “Apakah iman dalam sejarah agama manusia benar-benar unik antara satu agama dengan agama lainnya?, ataukah justru identik dengan sejumlah dispersi diberapa sisi-sisi?”. Dari riset literatur dan fenomena empirik yang ada, maka sebenarnya dapatlah disimpulkan suatu hipotesa; bahwa semua agama bermula dari ajaran tauhid (monotheisme). 

Setiap agama samawi yang pernah diturunkan kepada Bangsa Israel dan Arab senantiasa meletakkan Allah SWT sebagai puncak heararki kekuasaan di alam semesta ini.Pada perkembangannya sang waktulah kemudian yang secara perlahan merubah pemahaman demi pemahaman yang secara holistik mengganti wajah ajaran agama yang ada, bahkan ajaran Islam.
Iman sebagai suatu bentuk keyakinan kepada Sang Ghaib yang memiliki Maha Daya adalah sesuatu yang secara naluriah telah ada pada benak setiap manusia. Seorang atheis sekalipun akan memohon suatu pertolongan dari yang Maha Ghaib apabila sedang berada pada puncak krisis dalam hidupnya. Berawal dari benih iman paling awal inilah kemudian Allah SWT dalam sejarah umat manusia mengirimkan utusannya dari kalangan manusia kepada umatnya.


B. IFTIRAQ UL-UMMAH: Suatu Kajian Theologis
Dalam dasarwarsa terakhir ini, mengemuka sejumlah fenomena menarik yang layak guna diangkat dan dikomentari dalam dinamika ajaran Islam di Indonesia. Dinamika yang dimaksud adalah merebaknya aliran-aliran kepercayaan dan fundamentalisme agama yang menisbatkan ajaran atau organisasinya sebagai bagian integral dari agama Islam. Bahkan, sebagian diantara pemimpin spiritualnya secara tegas mendakwakan diri sebagai utusan (Nabi/Rasul/Manifestasi Jibril/Imam Mahdi) dari Allah SWT pasca kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Apakah yang melatarbelakangi gejala distorsi keagamaan ini? Lalu mengapa pula ‘agama’ ini senantiasa mampu menarik minat masyarakat luas guna menganutnya?.


Tentu, fenomena empirik ini tidak berdiri sendiri. Terlalu banyak faktor yang memungkinkan terjadinya distorsi keagamaan ini mengemuka ke ranah keyakinan. Sebaliknya, fenomena ini juga tidak boleh serta merta diberi stretotip sesat oleh umat Islam sebelum adanya upaya riset serius guna memberikan justifikasi yang adil. Namun demikian, pada dasarnya hal-hal yang mencemari ‘standar baku’ akidah Islamiyyah itu bersumber dari beberapa tema yang akan menjadi sub-sub pembahasan kemudian. Munculnya gerakan keyakinan yang dimotori oleh beberapa oknum umat Islam seperti Lia Eden, Ahmad Mushaddiq dan Ahmad Mirza Ghulam merupakan bukti emprik akan adanya gelombang pergeseran sendi-sendi Akidah yang nyata tengah terjadi di ranah umat.
Secara empirik terjadinya distorsi ajaran Islam, baik berupa syirik (politheisme), bid’ah dhalalah, khurafat, pemurtadan, singkretisme dan lain-lainnya lebih disebabkan oleh hal-hal yang sebenarnya bersifat profan. Premis ini dapat dilihat dari migrasi akidah Islamiyyah oleh upaya kaum misionari yang diakibatkan oleh wabah kemiskinan pada ranah umat, minimnya jaminan kesehatan dan pendidikan, terputusnya rantai dakwah Islam dan lainnya. Political will , ambisi pribadi eksponen Ulama dan metodologi tafsir nash-nash agama adalah hal lain yang turut memalingkan kaum Muslimin dari akidahnya.

Sebenarnya hal sebagaimana tersebut di atas merupakan deskripsi akan riak bid’ah Akidah di akhir zaman. Namun demikian gejala tersebut masih tergolong kecil dibandingkan dengan kenyataan zaman di masa lampau. Oleh Nabi Muhammad SAW fenomena ini sebenarnya telah jauh-jauh hari beliau memberikan peringatan akan munculnya deviasi (iftiraq) keyakinan tersebut. Hal ini sekaligus merupakan pertanda akan merambatnya zaman menuju puncak kehancurannya (kiamat kubro).

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِى فَسَيَرَى ِإخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الخَلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المُهْدِيِّيٍنَ، (أبوداود) تَمَسَكُوابِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ
“Maka barang siapa yang hidup (lebih lama) diantaramu sepeninggalku kelak, niscaya akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Maka apabila kamu hidup pada zaman itu, berpegang teguhlah pada Sunnahku dan sunnah-sunnah Khalifah ar-Rasyidiin yang dianugerahi petunjuk. Dan bersiteguhlah kamu dengan gigitan geraham (sungguh-sungguh)”. (HR. Imam Abu Dawud r.a).

أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلٰى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. ألنَّاجِيَّةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ وَالْبَاقُونَ هَلْكَى. قِيْلَ: وَمَنْ النَّاجِيَّةُ؟ قَالَ: أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ. قيل: وَمَنْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ (إبن مجاه و الترمذى) وَأَصْحَابِى

“Nabi SAW telah mengabarkan: ‘Bahwa umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang selamat hanya satu, lainnya akan binasa (celaka di akhirat). (Sahabat bertanya:) ‘Siapakah yang selamat?’. Beliau menjawab: ‘Ahlussunnah wal Jama’ah’. (Sahabat kembali bertanya:) ‘Siapakah yang dimaksud Ahlussunnah wal Jama’ah?’. Beliau menjawab: ‘Golongan yang mengikuti apa yang saya lakukan beserta para sahabatku’.” (HR. Imam Ibn Majah dan Imam At-Turmudzi r.a).

وَعَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلٰى أُمَّتِى مَا أَتَى عَلٰى بَنِى إٍسْرَائِيْلَ حَذْ وَالنَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمُّهُ عَلاَنِيَةً لَكاَنَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذٰلِكَ وَإِنْ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلٰى إِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِى عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالَ مَنْ هِىَ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى. رواه الترمذى

Dari Abdullah Ibnu Amr, telah bersabda Rasulullah SAW: “Niscaya akan mendatangi umatku (distorsi ajaran) sebagaimana telah datang kepada Bangsa Israel; teladan ceripu dengan ceripu-ceripu sehingga ada di antara umatku yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan, pastilah di antara umatku terdapat pula yang berbuat demikian. Dan bahwasanya Bangsa Israel telah bercerai-berai menjadi 72 aliran dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran; seluruhnya masuk ke neraka, kecuali satu aliran’. Para Sahabat bertanya: ‘Siapakah aliran yang satu itu ya Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Mereka yang mengikuti sunnahku dan sahabat-sahabatku’.” (HR. Imam Turmudzi r.a).

Menanggapi kehujjahan dan tafsir hadits di atas, para Ulama terbagi ke dalam tiga golongan :
1. Jumhur (mayoritas) Ulama menilai hadits tersebut cukup kuat, mengingat banyak sumber sanadnya dan tergolong sebagai hadits mutawwatir (yang banyak periwayatannya). Di antara karya-karya yang mengukuhkan kesahihan hadits di atas dari para Ulama jumhur ini adalah kitab Al-Farqu bain al-Firaq karya Imam Abdul Qahir al-Baghdadi. Kitab At-Tabshir fi al-Diin karya Imam Abu al-Mughaffar al-Isfarayini dan kitab Maqaalat al-Firqah al-Najiyah karya Al-Qadhi ‘Adhuddin Abdul Rahman al-Iji.
2. Ulama yang tidak menolak, namun lebih memilih tidak mengangkat hadits-hadits tersebut di dalam kitabnya. Para Ulama ini adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari penulis kitab Maqaalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin dan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Razi (Imam Ibnu al-Khatib) penulis kitab I’tiqadaat Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin.
3. Ulama yang menolak hadits tersebut. Para Ulama ini berpendapat meskipun hadits di atas merupakan hadits mutawwatir namun banyak mengandung kelemahan. Ulama yang menolak hadits ini adalah tokoh Madzhab Zhahiri, yaitu Ibn Hazm penulis kitab Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal.



Sebagai aliran yang bergenre Wahabi, Muhammadiyyah dalam istimbath hukumnya seolah ingin mengukuhkan kebebasan bermadzhab (metodologi fiqh) dan lebih memilih metode talfiq di dalam pengambilan hukumnya. Majelis Tarjih sendiri di dalam aplikasinya adalah sekerumun sarjana yang tidak memiliki kemapanan ushuluddin yang ingin mendobrak pola madzab yang ada dengan membentuk neo-adzhab Muhammadiyyah. Kebijakan ini tentu sangat meresahkan. Asal comot hukum




a. KeJahiliyyahan/Kebodohan.
b. Bid’ah Sayyi’ah.
c. Pendangkalan Akidah.
d. Hedonisme.
e. Singkretisme.
f. Puritanisme.
g. Politic interest
Tugas!
Mahasiswa membentuk kelompok dan melakukan riset terhadap sendi-sendi Akidah pada organisasi-organisasi Islam yang ada di Indonesia dan mendeskripsikannya ke dalam bentuk makalah. Nahdlatul Ulama, Muhammadiyyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Al-Irsyad, Hizbut Tahrir Indonesia, Ikhwanul Muslimin, Salafiyyah (Wahabiyyah), Jama’ah Tabligh.
الفرقة الناجية

Popular posts from this blog

Wali Allah di Kabupaten Banyumas

PERKEMBANGAN SEJARAH IMAN UMAT MANUSIA