PERKEMBANGAN SEJARAH IMAN UMAT MANUSIA
By.Kang Aldie
Mukadimah
Iman merupakan suatu keyakinan yang ada di dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan diaplikasikan oleh sejumlah tindakan. Hal ini sebagaimana pengertian dari iman itu sendiri:
الإيمان هو الإقرار باللسان والتصديق بالقلب وعمل بلأركان
“Iman adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati, dinyatakan dengan lisan dan dibuktikan dengan anggota tubuh”.
Dari defenisi iman di atas maka dapatlah disimpulkan bahwasannya tindakan (af’al/actions) merupakan implementasi dan bukti (the proof) akan adanya iman (faith/belief) di dalam hati seseorang. Ajaran Islam sangat menentang keras ketidak-sesuaian antara hati, fikiran dan tindakan dalam beragama, hal ini diistilahkan sebagai nifaq dan praktisinya di juluki munafik.
Pada ruang baca berikut akan dideskripsikan bagaimana kronologis keimanan umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus. Berdasarkan eksplorasi teks suci yang ada, maka dapat dibuktikan bahwa sesungguhnya ajaran-ajaran agama di dunia ini bagaikan sungai-sungai kecil yang mengarah pada satu samudera, yaitu wahdaniyyah atau keesaan Tuhan Semesta Alam.
Sedangkan data empiris yang tertoreh jejak-jejak historical belief, membuktikan bahwa konsep wahdaniyyah inipun kemudian mengalami pelunturan makna dan distorsi. Hal ini terkait dengan deviasi konsepsi ketuhanan (akidah tauhid) yang lebih diakibatkan oleh beberapa hal, seperti:
1. Merebaknya kebodohan akan ajaran Islam dan aqidah Islamiyyah pada khususnya;
2. Kentalnya kepentingan materialistik dan perburuan pengaruh oleh beberapa oknum Ulama untuk pribadinya;
3. doktrin ashabiyyah;
4. dan utamanya adalah kepentingan politik (political interest).
Terma yang terakhir di atas dicatat tebal oleh sejarah sebagai unsur paling destruktif bagi konsep Akidah Islamiyyah, yang dalam hal ini berupa pendistorsian dan bahkan pengingkaran terhadap dzat, sifat-sifat, af’al dan asma’ Allah SWT. Berawal dari fenomena inilah dunia Islam kemudian mengenal adanya berbagi gerakan firqah pseudo-islamist seperti Khawarij, Muktazillah, Syi’ah dan Murji’ah dengan gerakan Wahabiyyah pada zaman sekarang ini sebagai bukti eksistensinya.
Wahdaniyyah: Suatu Konsep Akidah Setiap Rasulullah di Muka Bumi
Dalam sejarah kerasulan, setiap Nabi dan Rasul semenjak Rasulullah Adam a.s senantiasa mendakwahkan akidah atau tauhid yang sama, yaitu wahdaniyyah atau keesaan Allah SWT atau tauhidu lilLlah. Dan yang berbeda hanyalah pada praktek syari’atnya saja yang elastik sesuai peradaban masing-masing kaum (generasi) rasul-rasul tersebut. Konsep syari’at adalah bagaimana tata cara beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan konsep akidah, membahas tentang bagaimana pola persepsi manusia terhadap Allah SWT.
Setiap Rasul memiliki syari’at yang berbeda namun dengan substansi yang sama yaitu bagaimana beribadah kepada Allah SWT. Dalam hal ini sejumlah dakwah para rasul secara luas diulas di dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’araa’ dan juga pada surat-surat Al-Qur’an yang lainnya.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaan)mu, terhadap orang-orang mukmin ia sangatlah pengasih dan penyayang”. (QS. At-Taubah : 128).
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad, saudara mereka Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’..” (QS. Al-A’raaf : 65).
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: ‘Hai Kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya stelah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu..” (QS. Al-A’raaf : 73).
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syua’ib. ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu..” (QS. Al-A’raaf : 85).
Dalam sejarah panjang syari’at/hukum agama, maka kerasulan Muhammad SAW merupakan generasi syari’at yang menyempurnakan syari’at-syari’at generasi sebelumnya. Kesempurnaan ajaran Islam ini bukan hanya meliputi syari’at para Nabi dan Rasul yang telah dikhabarkan di dalam Al-Qur’an saja. Namun juga dakwah para nabi yang tidak disebut-sebut di dalam Al-Qur’an seperti Nabi Kapilawasta di tengah bangsa India dengan ajaran jalan kebaikan (budha)nya. Nabi Zoroaster yang mengajarkan peribadahan terhadap Sang Esa dan Sang Abadi sesuai kitab Zend Avesta di tengah-tengah Bangsa Persia (Iran), Konghucu dengan ajaran harmoninya, Nabi Yusono yang hidup di tanah Jawa ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan ajaran sumeleh (pasrah, taslim) pada Sang Hyang Widie (Dzat Yang Maha Esa), Sang Hyang Manon (Dzat Yang Maha Melindungi), Sang Hyang Wisesa (Dzat Yang Maha Kuasa), juga para Resi di India sebelum sang Kapilawasta (Budha Gautama) lahir, dimana para Resi ini mengajarkan kitab Weda (Vedda) dan kitab Upanisad yang didalamnya pun mengabarkan akan datangnya Sang Avatar dari jazirah Arab.
Tegasnya adalah bahwa apapun ragam syari’at yang dirisalahkan para Rasulullah, senantiasa mengajarkan tauhid atau akidah yang sama, yaitu pengesaan terhadap Allah SWT. Adapun frame syari’at senantiasa bersifat elastik terhadap kondisi suatu umat. Kesimpulannya adalah, bahwa risalah Nabi Muhammad SAW menyempurnakan ajaran para rasul sebelumnya. Dimana ajaran-ajaran para rasul tersebut ajarannya bersifat khusus atau ekslusif bagi kaumnya, seperti Nabi Isa a.s yang ajarannya dikhususkan hanya kepada bangsa Israel.
“Maka jawab Yesus, katanya: tiadalah aku disuruhkan (berdakwah) kepada (bangsa) yang lain, hanya pada segala domba (anak manusia) yang sesat dari antara Bani Israil” (Matius 15 : 24).
“Maka sekalian orang yang berpecah-belah oleh sebab aniaya yang berbangkit karena Stepanus itupun mengembaralah samapi ke Feniki dan Keperun dan Antiochia, tetapi tiada memberitakan firman itu kepada seorangpun kecuali kepada orang Yahudi” (Kisah Rasul-Rasul 11 : 19).
Sedangkan Nabi Isa a.s menyempurnakan risalah Nabi Musa a.s, dan Nabi Musa a.s sendiri menyempurnakan risalah Nabi Ibrahim a.s dan nabi-nabi sebelumnya. Hal ini dapat dirunut dari berita-berita yang terdapat di dalam masing-masing kitab suci yang dibawa oleh para rasul tersebut.
“Janganlah kamu sangka bahwa aku (Yesus/Isa a.s) datang hendak merombak hukum Taurat atau kitab nabi-nabi: bukannya aku datang hendak merombak, melainkan hendak mengenapinya. Karena sesungguhnya aku berkata padamu, sehingga langit dan bumi lenyap, satu noktah atau satu titikpun sekali-kali tiada lenyap daripada hukum Taurat itu sampai semuanya telah jadi”. (Injil Matius 5: 17, 18).
Kerasulan Nabi Muhammad SAW (20 April 572 di Mekkah hingga wafat pada 8 Juni 632 di Madinah) merupakan puncak kenabian dan kerasulan Allah SWT. Islam merupakan satu-satunya ajaran agama yang mendapat rekomendasi langsung dari Allah SWT untuk disebar-luaskan ke seluruh penjuru dunia, baik dari kalangan jin maupun manusia. Perintah ini merupakan bentuk rahmatan lil ‘alamin risalah Islamiyyah, yang tidak hanya bagi Bangsa Arab (sebagai kaumnya Nabi Muhammad SAW), namun juga bagi Bangsa ‘Ajam (non-Arab).
قُلْ يَاَيُّهَاالنَّاسُ إِنِّى رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ج لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيْتُ صلى فَاَمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَتِهِ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Katakanlah (Muhammad): “Hai manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (kepada) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (QS. Al-A’raaf : 158).
Mukadimah
Iman merupakan suatu keyakinan yang ada di dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan diaplikasikan oleh sejumlah tindakan. Hal ini sebagaimana pengertian dari iman itu sendiri:
الإيمان هو الإقرار باللسان والتصديق بالقلب وعمل بلأركان
“Iman adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati, dinyatakan dengan lisan dan dibuktikan dengan anggota tubuh”.
Dari defenisi iman di atas maka dapatlah disimpulkan bahwasannya tindakan (af’al/actions) merupakan implementasi dan bukti (the proof) akan adanya iman (faith/belief) di dalam hati seseorang. Ajaran Islam sangat menentang keras ketidak-sesuaian antara hati, fikiran dan tindakan dalam beragama, hal ini diistilahkan sebagai nifaq dan praktisinya di juluki munafik.
Pada ruang baca berikut akan dideskripsikan bagaimana kronologis keimanan umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus. Berdasarkan eksplorasi teks suci yang ada, maka dapat dibuktikan bahwa sesungguhnya ajaran-ajaran agama di dunia ini bagaikan sungai-sungai kecil yang mengarah pada satu samudera, yaitu wahdaniyyah atau keesaan Tuhan Semesta Alam.
Sedangkan data empiris yang tertoreh jejak-jejak historical belief, membuktikan bahwa konsep wahdaniyyah inipun kemudian mengalami pelunturan makna dan distorsi. Hal ini terkait dengan deviasi konsepsi ketuhanan (akidah tauhid) yang lebih diakibatkan oleh beberapa hal, seperti:
1. Merebaknya kebodohan akan ajaran Islam dan aqidah Islamiyyah pada khususnya;
2. Kentalnya kepentingan materialistik dan perburuan pengaruh oleh beberapa oknum Ulama untuk pribadinya;
3. doktrin ashabiyyah;
4. dan utamanya adalah kepentingan politik (political interest).
Terma yang terakhir di atas dicatat tebal oleh sejarah sebagai unsur paling destruktif bagi konsep Akidah Islamiyyah, yang dalam hal ini berupa pendistorsian dan bahkan pengingkaran terhadap dzat, sifat-sifat, af’al dan asma’ Allah SWT. Berawal dari fenomena inilah dunia Islam kemudian mengenal adanya berbagi gerakan firqah pseudo-islamist seperti Khawarij, Muktazillah, Syi’ah dan Murji’ah dengan gerakan Wahabiyyah pada zaman sekarang ini sebagai bukti eksistensinya.
Wahdaniyyah: Suatu Konsep Akidah Setiap Rasulullah di Muka Bumi
Dalam sejarah kerasulan, setiap Nabi dan Rasul semenjak Rasulullah Adam a.s senantiasa mendakwahkan akidah atau tauhid yang sama, yaitu wahdaniyyah atau keesaan Allah SWT atau tauhidu lilLlah. Dan yang berbeda hanyalah pada praktek syari’atnya saja yang elastik sesuai peradaban masing-masing kaum (generasi) rasul-rasul tersebut. Konsep syari’at adalah bagaimana tata cara beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan konsep akidah, membahas tentang bagaimana pola persepsi manusia terhadap Allah SWT.
Setiap Rasul memiliki syari’at yang berbeda namun dengan substansi yang sama yaitu bagaimana beribadah kepada Allah SWT. Dalam hal ini sejumlah dakwah para rasul secara luas diulas di dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’araa’ dan juga pada surat-surat Al-Qur’an yang lainnya.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaan)mu, terhadap orang-orang mukmin ia sangatlah pengasih dan penyayang”. (QS. At-Taubah : 128).
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad, saudara mereka Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’..” (QS. Al-A’raaf : 65).
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: ‘Hai Kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya stelah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu..” (QS. Al-A’raaf : 73).
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syua’ib. ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu..” (QS. Al-A’raaf : 85).
Dalam sejarah panjang syari’at/hukum agama, maka kerasulan Muhammad SAW merupakan generasi syari’at yang menyempurnakan syari’at-syari’at generasi sebelumnya. Kesempurnaan ajaran Islam ini bukan hanya meliputi syari’at para Nabi dan Rasul yang telah dikhabarkan di dalam Al-Qur’an saja. Namun juga dakwah para nabi yang tidak disebut-sebut di dalam Al-Qur’an seperti Nabi Kapilawasta di tengah bangsa India dengan ajaran jalan kebaikan (budha)nya. Nabi Zoroaster yang mengajarkan peribadahan terhadap Sang Esa dan Sang Abadi sesuai kitab Zend Avesta di tengah-tengah Bangsa Persia (Iran), Konghucu dengan ajaran harmoninya, Nabi Yusono yang hidup di tanah Jawa ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan ajaran sumeleh (pasrah, taslim) pada Sang Hyang Widie (Dzat Yang Maha Esa), Sang Hyang Manon (Dzat Yang Maha Melindungi), Sang Hyang Wisesa (Dzat Yang Maha Kuasa), juga para Resi di India sebelum sang Kapilawasta (Budha Gautama) lahir, dimana para Resi ini mengajarkan kitab Weda (Vedda) dan kitab Upanisad yang didalamnya pun mengabarkan akan datangnya Sang Avatar dari jazirah Arab.
Tegasnya adalah bahwa apapun ragam syari’at yang dirisalahkan para Rasulullah, senantiasa mengajarkan tauhid atau akidah yang sama, yaitu pengesaan terhadap Allah SWT. Adapun frame syari’at senantiasa bersifat elastik terhadap kondisi suatu umat. Kesimpulannya adalah, bahwa risalah Nabi Muhammad SAW menyempurnakan ajaran para rasul sebelumnya. Dimana ajaran-ajaran para rasul tersebut ajarannya bersifat khusus atau ekslusif bagi kaumnya, seperti Nabi Isa a.s yang ajarannya dikhususkan hanya kepada bangsa Israel.
“Maka jawab Yesus, katanya: tiadalah aku disuruhkan (berdakwah) kepada (bangsa) yang lain, hanya pada segala domba (anak manusia) yang sesat dari antara Bani Israil” (Matius 15 : 24).
“Maka sekalian orang yang berpecah-belah oleh sebab aniaya yang berbangkit karena Stepanus itupun mengembaralah samapi ke Feniki dan Keperun dan Antiochia, tetapi tiada memberitakan firman itu kepada seorangpun kecuali kepada orang Yahudi” (Kisah Rasul-Rasul 11 : 19).
Sedangkan Nabi Isa a.s menyempurnakan risalah Nabi Musa a.s, dan Nabi Musa a.s sendiri menyempurnakan risalah Nabi Ibrahim a.s dan nabi-nabi sebelumnya. Hal ini dapat dirunut dari berita-berita yang terdapat di dalam masing-masing kitab suci yang dibawa oleh para rasul tersebut.
“Janganlah kamu sangka bahwa aku (Yesus/Isa a.s) datang hendak merombak hukum Taurat atau kitab nabi-nabi: bukannya aku datang hendak merombak, melainkan hendak mengenapinya. Karena sesungguhnya aku berkata padamu, sehingga langit dan bumi lenyap, satu noktah atau satu titikpun sekali-kali tiada lenyap daripada hukum Taurat itu sampai semuanya telah jadi”. (Injil Matius 5: 17, 18).
Kerasulan Nabi Muhammad SAW (20 April 572 di Mekkah hingga wafat pada 8 Juni 632 di Madinah) merupakan puncak kenabian dan kerasulan Allah SWT. Islam merupakan satu-satunya ajaran agama yang mendapat rekomendasi langsung dari Allah SWT untuk disebar-luaskan ke seluruh penjuru dunia, baik dari kalangan jin maupun manusia. Perintah ini merupakan bentuk rahmatan lil ‘alamin risalah Islamiyyah, yang tidak hanya bagi Bangsa Arab (sebagai kaumnya Nabi Muhammad SAW), namun juga bagi Bangsa ‘Ajam (non-Arab).
قُلْ يَاَيُّهَاالنَّاسُ إِنِّى رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ج لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيْتُ صلى فَاَمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَتِهِ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Katakanlah (Muhammad): “Hai manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (kepada) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (QS. Al-A’raaf : 158).