PERKEMBANGAN PEMIKIRAN UMAT ISLAM TENTANG IMAN
A. SEJARAH IMAN UMAT MANUSIA
Berdialektika tentang iman, maka terdapat pertanyaan besar yang jawabannya dapat menjadi suatu sintesa dan paradigma atas iman umat manusia. “Apakah iman dalam sejarah agama manusia benar-benar unik antara satu agama dengan agama lainnya?, ataukah justru identik dengan sejumlah dispersi diberapa sisi-sisi?”. Dari riset literatur dan fenomena empirik yang ada, maka sebenarnya dapatlah disimpulkan suatu hipotesa; bahwa semua agama bermula dari ajaran tauhid (monotheism).
Iman sebagai suatu bentuk keyakinan kepada Sang Ghaib yang memiliki Maha Daya adalah sesuatu yang secara naluriah telah ada pada benak setiap manusia. Seorang atheis sekalipun akan memohon suatu pertolongan dari yang Maha Ghaib apabila sedang berada pada puncak krisis dalam hidupnya. Berawal dari benih iman inilah kemudian Allah SWT dalam sejarah umat manusia mengirimkan utusannya dari kalangan manusia kepada umatnya guna memberikan podoman perawatan demi kesahihannya.
Sejarah agama-agana telah mencatat bahwa setiap agama samawi yang pernah diturunkan baik kepada Bangsa Israel dan Arab, senantiasa meletakkan Allah SWT sebagai puncak heararki kekuasaan di alam semesta ini. Pada perkembangannya sang waktulah kemudian secara perlahan yang mendistorsi pemahaman demi pemahaman yang secara holistik mengganti wajah ajaran agama yang ada, bahkan hal yang sama juga merudung ajaran Islam.
B. IFTIRAQ UL-UMMAH: Suatu Kajian Theologis
Dalam dasarwarsa terakhir ini, mengemuka sejumlah fenomena menarik yang layak guna diangkat dan dikomentari dalam dinamika ajaran Islam di Indonesia. Dinamika yang dimaksud adalah merebaknya aliran-aliran kepercayaan dan fundamentalisme agama yang menisbatkan ajaran atau organisasinya sebagai bagian integral dari agama Islam. Bahkan, sebagian diantara pemimpin spiritualnya secara tegas mendakwakan diri sebagai utusan (Nabi/Rasul/Manifestasi Jibril/Imam Mahdi) dari Allah SWT pasca kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Apakah yang melatarbelakangi gejala distorsi keagamaan ini? Lalu mengapa pula ‘agama’ ini senantiasa mampu menarik minat masyarakat luas guna menganutnya?.
Tentu, fenomena empirik ini tidak berdiri sendiri. Terlalu banyak faktor yang memungkinkan terjadinya distorsi keagamaan ini mengemuka ke ranah keyakinan. Sebaliknya, fenomena ini juga tidak boleh serta merta diberi stretotip sesat oleh umat Islam sebelum adanya upaya riset serius guna memberikan justifikasi yang adil. Namun demikian, pada dasarnya hal-hal yang mencemari ‘standar baku’ Akidah Islamiyyah itu bersumber dari beberapa tema yang akan menjadi sub-sub pembahasan kemudian. Munculnya gerakan keyakinan yang dimotori oleh beberapa oknum umat Islam seperti Lia Eden, Ahmad Mushaddiq dan Ahmad Mirza Ghulam merupakan bukti emprik akan adanya gelombang pergeseran sendi-sendi akidah yang nyata-nyata tengah terjadi di ranah umat.
(رواه الترمذى)وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَانَبِىَّ بَعْدَى
“Akan ada dilingkungan umatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa ia adalah nabi. Saya (Muhammad) adalah Nabi Penutup, tiada lagi (pengangkatan) nabi sesudahku” . (HR. Imam Tirmidzi).
Secara empirik terjadinya distorsi ajaran Islam, baik berupa syirik (politheisme), bid’ah dhalalah, khurafat, pemurtadan, singkretisme dan lain-lainnya pada dasarnya lebih disebabkan oleh hal-hal yang sebenarnya bersifat profan. Premis ini dapat dilihat dari migrasi akidah Islamiyyah oleh upaya kaum misionari yang diakibatkan oleh wabah kemiskinan pada ranah umat, minimnya jaminan kesehatan dan pendidikan, terputusnya rantai dakwah Islam dan lainnya. Political interest , ambisi pribadi eksponen Ulama dan metodologi tafsir nash-nash agama adalah hal lain yang turut memalingkan kaum Muslimin dari akidahnya.
Sebenarnya hal sebagaimana tersebut di atas merupakan deskripsi akan riak bid’ah akidah di akhir zaman. Namun demikian gejala tersebut masih tergolong kecil dibandingkan dengan kenyataan zaman di masa lampau. Oleh Nabi Muhammad SAW fenomena ini sebenarnya telah jauh-jauh hari diingatkan tentang munculnya deviasi (iftiraq) keyakinan tersebut. Hal ini sekaligus merupakan pertanda akan merambatnya zaman menuju puncak kehancurannya (kiamat kubro).
Saat sekarang ini adalah akhir dari zaman panjang dalam puncak sejarah umur dunia. Secara empirik perpecahan-perpecahan (iftiraqul ummah) di dalam lingkungan umat Islam sudah sangat nyata-nyata tampak. Perpecahan ini sudah sangat tajam dan sulit untuk didamaikan, terlebih dipersatukan.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِى فَسَيَرَى ِإخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الخَلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المُهْدِيِّيٍنَ، (أبوداود) تَمَسَكُوابِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ
“Maka barang siapa yang hidup (lebih lama) diantaramu sepeninggalku kelak, niscaya akan menyaksikan banyaknya perselisihan paham. Maka apabila kamu hidup pada zaman itu, berpegang teguhlah pada Sunnahku dan sunnah-sunnah Khalifah ar-Rasyidiin yang dianugerahi petunjuk. Dan bersiteguhlah kamu dengan gigitan geraham (sungguh-sungguh)”. (HR. Imam Abu Dawud r.a) .
أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلٰى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. ألنَّاجِيَّةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ وَالْبَاقُونَ هَلْكَى. قِيْلَ: وَمَنْ النَّاجِيَّةُ؟ قَالَ: أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ. قيل: وَمَنْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ؟ (إبن مجاه و الترمذى) قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
“Nabi SAW telah mengabarkan: ‘Bahwa umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang selamat hanya satu, lainnya akan binasa (celaka di akhirat). (Sahabat bertanya:) ‘Siapakah yang selamat?’. Beliau menjawab: ‘Ahlussunnah wal Jama’ah’. (Sahabat kembali bertanya:) ‘Siapakah yang dimaksud Ahlussunnah wal Jama’ah?’. Beliau menjawab: ‘Golongan yang mengikuti apa yang saya lakukan beserta para sahabatku’.” (HR. Imam Ibn Majah dan Imam At-Turmudzi r.a).
،َعَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِنْ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلٰى إِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِى عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالَ مَنْ هِىَ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى. رواه الترمذى
Dari Abdullah Ibnu Amr, telah bersabda Rasulullah SAW: “Bahwasanya Bangsa Israel telah bercerai-berai menjadi 72 aliran dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran; seluruhnya masuk ke neraka, kecuali satu aliran’. Para Sahabat bertanya: ‘Siapakah aliran yang satu itu ya Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Mereka yang mengikuti sunnahku dan sahabat-sahabatku’.” (HR. Imam Turmudzi r.a) .
Menanggapi kehujjahan dan tafsir hadits di atas, para Ulama terbagi ke dalam tiga golongan :
1. Jumhur (mayoritas) Ulama menilai hadits tersebut cukup kuat, mengingat banyak sumber sanadnya dan tergolong sebagai hadits mutawwatir (yang banyak periwayatannya). Di antara karya-karya yang mengukuhkan kesahihan hadits di atas dari para Ulama jumhur ini adalah kitab Al-Farqu bain al-Firaq karya Imam Abdul Qahir al-Baghdadi. Kitab At-Tabshir fi al-Diin karya Imam Abu al-Mughaffar al-Isfarayini dan kitab Maqaalat al-Firqah al-Najiyah karya Al-Qadhi ‘Adhuddin Abdul Rahman al-Iji.
2. Ulama yang tidak menolak, namun lebih memilih tidak mengangkat hadits-hadits tersebut di dalam kitabnya. Para Ulama ini adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari penulis kitab Maqaalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin dan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Razi (Imam Ibnu al-Khatib) penulis kitab I’tiqadaat Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin.
3. Ulama yang menolak hadits tersebut. Para Ulama ini berpendapat meskipun hadits di atas merupakan hadits mutawwatir namun banyak mengandung kelemahan. Ulama yang menolak hadits ini adalah tokoh Madzhab Zhahiri, yaitu Ibn Hazm penulis kitab Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal.
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى أَخِرِ الزَّمَانِ اَحْدَاثُ اَلْاَسْنَانِ سُفَهَاءُ اَلْاَحْلاَمُ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِالْبَرِيَّةِ. لَايُجَاوِزُ اِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْدِّيْنِ كَمَايَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَاَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ. فتح البارى. الجزء العاشر صححفة:٣١٥
“Akan muncul suatu golongan di akhir zaman, orang-orang muda berpaham jelek/buruk. Mereka banyak mengucapkan perkataan ‘Khairi Bariyah’ (maksudnya: ‘bahwa ini adalah firman-firman Allah yang dibawa oleh Nabi’). (Padahal) Iman mereka tidak melampaui kerongkongan merka. Mereka keluar dari agama bagaikan meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu maka lawanlah mereka”. (HR. Imam Bukhari r.a) .
Hadits di atas dengan gamblang mengabarkan kepada umat Islam yang hidup pada akhir zaman akan munculnya generasi muda yang mengusung simbolisme Islam dan gemar mengeluarkan fatwa-fatwa dengan mengutip Al-Qur’an dan Al-Hadits, namun sesungguhnya Iman dan pendalaman agama mereka sangat tipis sekali. Dan pada kenyataannya, gerakan-gerakan hizbut takfiriyyah ini pada masa sekarang ini sudah sangat marak sekali. Dan umat Islam dalam hal ini memiliki kewajiban untuk melakukan perlawanan, baik secara ideologis (aqidah), keilmuaan dan sosial.
تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ حَتَّى تَأْتِيْهِمْ أَمْرُاللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ. رواه البخارى
“Akan ada segolongan umat yang tetap atas kebenaran hingga tiba hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu”. (HR. Imam Bukhari r.a)
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Ba’alwi dalam karyanya Bughyatul Mustarsyidin menyebutkan bahwa sesungguhnya 72 firqah/Islam sempalan sebagaimana telah disebutkan hadits di atas berpangkal dari 7 firqah/sekte utama, yaitu:
1) Sekte Syi’ah, yaitu aliran yang secara hiperbolis memuja Sahabat Ali k.w. golongan ini tidak mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar r.a, Umar r.a dan Utsman r.a. Bahkan menganggap Malaikat Jibril telah keliru menurunkan wahyu yang semestinya kepada Ali bin Abi Thalib r.a, bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam ilmu hadits, golongan ini tidak mengakui seluruh hadits dari kalangan sahabat yang masyhur. Sekte Syi’ah ini kemudian terpecah menjadi 22 aliran.
2) Sekte Khawarij, yaitu aliran yang berlebih-lebihan membenci Ali bin Abi Thalib r.a bahkan mengutuknya dan mengkafirkan beliau. Ciri khas yang menonjol dari aliran ini adalah sifat dan sikap kerasnya terhadap umat Islam lain yang tidak sepaham dengan memberikan strerotip kafir dan munafik. Yang menarik, aliran ini berfatwa bahwa orang-orang yang berdosa besar akan menjadi kafir. Sekte Khawarij ini kemudian terpecah menjadi 20 aliran.
3) Sekte Muktazilah, aliran ini berfaham bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat (karakteristik/ciri-ciri), bahwa apapun yang diperbuat oleh manusia adalah semata-mata hasil kekuatannya sendiri, bahwa manusia tidak akan melihat Allah SWT di syurga dan orang-orang yang berdosa besar akan ditempatkan di antara dua tempat, bahwa mi’raj Nabi Muhammad SAW hanyalah dengan ruhnya saja dan lain-lainnya. Ciri yang menonjol dari sekte ini adalah penggunaan akal atau rasionalitasnya yang menjadi tolak ukur kebenaran nash beragama. Sekte Muktazilah ini kemudian terpecah menjadi 20 aliran.
4) Sekte Murji’ah, yaitu golongan yang menfatwakan bahwa bermaksiyat setelah seseorang beriman tidak akan berdosa, selama ia menyakini pada syahadatnya ia akan dijamin masuk ke dalam syurga. Hal ini merupakan hasil analogi bahwa apabila seseorang yang kafir tidak akan dicatat berpahala apabila melakukan suatu kebajikan. Sekte Murji’ah ini kemudian terpecah menjadi 5 aliran.
5) Sekte Najariyah, yaitu aliran yang memfatwakan perbuatan manusia adalah semata-mata dijadikan oleh Allah SWT. Sekte ini juga berpendapat bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat (karakteristik), sehingga Allah SWT adalah sesuatu berada diluar akal, hati dan ilmu pengetahuan (unknownledge) manusia. Sekte ini pada perkembangannya pecah menjadi tiga golongan sempalan. Sekte Najariyah ini kemudian terpecah menjadi 3 aliran.
6) Sekte Jabariyah, yaitu aliran yang meyakini bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk majbur (tidak berdaya sama sekali) dan tidak memiliki usaha (kasab) sama sekali. Sekte ini mempercayai bahwa apapun yang terjadi pada manusia, tanpa usaha sekalipun maka sesuatu tersebut akan terjadi. Aliran ini disebut juga sebagai aliran fatalistik.
7) Sekte Musyabbihah, adalah aliran Islam sempalan yang meyakini bahwa ada keserupaan antara manusia dengan Allah SWT, seperti: duduk, memiliki tangan, melihat dengan indra dan lain-lain.
Adapun pada masa sekarang ini, sebaran aliran di atas tersebut telah marak pada sejumlah sekte dan lembaga-lembaga keIslaman modern. Para Ulama mendefenisikan sekte Qadariyah sebagai bagian aliran Muktazilah, aliran Bahaiyyah dan Ahmadiyah Qadyan termasuk penganut sekte Syi’ah, penganut Ibnu Taimiyyah tergolong sebagai sekte Musyabbihah dan pada perkembangannya Aliran Wahabi dewasa ini merupakan manifestasi dan penganjur dari sekte Musyabbihah menurut pemahaman Ibnu Taimiyyah. Paparan ini sekaligus sebagai peringatan bagi umat Islam di Indonesia akan maraknya upaya penyimpangan akidah. Sehingga sejalan dengan perintah Rasulullah SAW maka merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk mengenal sejumlah sekte tersebut guna ditanggulangi. Dari deskripsi di atas pula maka dapatlah disimpulkan bahwa jumlah aliran sempalan yang bersumber dari ajaran Islam yang terdeviasi adalah sebagai berikut :
1. Aliran Syi’ah 22 Sekte
2. Aliran Khawarij 20 Sekte
3. Aliran Muktazilah 20 Sekte
4. Aliran Murji’ah 5 Sekte
5. Aliran Najariyah 3 Sekte
6. Aliran Jabariyah 1 Sekte
7. Aliran Musyabihah 1 Sekte +
Jumlah 72 Sekte/ Aliran Sempalan, jumlah ini menjadi 73 ditambah Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah.
C. PETA SIKAP FASADAH YANG MERUSAK AQIDAH ISLAMIYYAH
Ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang menetapkan ke-Esa-an Allah SWT dan sebagai satu-satunya pemberi dan tempat meminta bagi umat Islam . Namun demikian pada prakteknya ketauhidan ini dapat saja rusak dan bahkan gugur oleh beberapa hal sebagaimana deskripsi di bawah ini:
1. SYIRIK BILLAH (شِرْكُ بِاللهِ)
Syirik secara akar bahasa (etimologis) berasal dari kata شَرَك yang bermakna sekutu (dengan tingkat daya yang sepadan ataupun tidak). Sementara secara terminologis, syirik adalah aktivitas seorang muslim yang menempatkan makhluk, baik berupa sesuatu atau seseorang yang menggantikan fungsi Allah SWT sebagai fokus/tujuan menyembah dan meminta, baik manifestasinya dalam bentuk keyakinan, ucapan maupun tingkah-laku. Kaum musyrikin dalam ajaran Islam di pandang lebih hina bila dibandingkan dengan kaum kafirin. Analoginya adalah bila kaum kafirin (non-muslim) menyatakan keingkarannya terhadap Allah SWT secara terang-terangan dan gentlement. Sementara kaum musyrikin adalah golongan yang secara zhahir menyatakan keIslamannya, namun secara terselubung senantiasa menyatakan keingkaran/pengkhianatannya terhadap Allah SWT. Dari inilah maka dapat dipahami mengapa ajaran Islam menempatkan syirik sebagai dosa pada rating teratas.
لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. لقمان: ١٣
“Janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kesesatan yang paling besar” (QS. Luqman:13).
يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلَايَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلَّاقَلِيْلًَا. النسأ: ١٤٢
“Mereka bermaksud riya’ (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sangat sedikit” (QS. An-Nisaa’: 142).
Lawan dari sikap syirik ini adalah tauhidu lillah/توحيد لألله (pengesaan terhadap Allah SWT) dan prakteknya adalah sikap tawakal (berserah diri sepenuh hati dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT). Adapun pembagian syirik ini menurut Raghib al-Asybahani di bagi ke dalam dua klasifikasi. Pertama, syirik besar (شرك اكبر) yaitu menetapkan adanya sekutu bagi Allah SWT, dan ini adalah pengkhianatan terbesar di dalam ajaran Islam. Taubatan nashuha dalam hal ini dipandang sebagai satu-satunya jalan kembali kepada Allah SWT, contohnya adalah meminta sebagai ghayah perlindungan ataupun rezeki kepada Syaitan, Jin, Malaikat dan Manusia serta benda-benda. Kedua, syirik khafi (samar) yang merupakan bentuk penyekutuan Dzat Allah SWT melalui gerak hati, ucapan dan perbuatan yang tidak dinyatakan langsung sebagai suatu sikap syirik . Contoh dari bentuk syirik ini adalah sikap jumawa (sombong), riya’ dan aktivitas seorang muslim yang cenderung menomor-duakan ataupun mensetarakan makhluk kepada Allah SWT.
Namun demikian, syirik bukanlah wilayah yang dapat dituduhkan ataupun dilekatkan sebagai strerotip kepada seseorang dengan membabi-buta. Sebagai contoh ketika seseorang yang sakit dan meminta bantuan kepada seorang dokter, dan kemudian ia sembuh. Bukan berarti ketika ia sedang meminta tolong dan meminta kesembuhan kepada dokter tersebut bisa dikatagorikan sebagai syirik kepada Allah SWT dengan dalih hanya kepada Allah SWT tempat manusia meminta . Berangkat dari mekanisme inilah maka di dalam ajaran Islam kemudian berkembang konsep wasilah dengan tetap memposisikan Allah SWT sebagai ghayah (tujuan) sebagaimana diungkapkan oleh firman Allah SWT:
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اِتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اَلْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِى سَبِيْلِيْهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah SWT dan dekatkanlah dirimu kepadaNya dengan wasilah, dan bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada jalanNya; niscaya kamu sekalian akan menjadi golongan yang beruntung”. (QS. Al-Maidah [5]: 35).
أُوَلئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ إِلىٰ رَبِّهِمْ اَلْوَسِيْلَةً أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتًهُ وَيَخَاقُوْنَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًَا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Tuhannya (Allah SWT) sebagai wasilah-wasilah terdekat dan (mereka) senantiasa mengharapkan rahmatNya dan sangat takut akan kedatangan adzabNya. Sesungguhnya adzab dari Tuhanmu adalah sesuatu yang seharusnya ditakuti”. (QS. Al-Isra’: 57).
أنّ عمر بن الخطاب رضى الله عنهم كَانَ إِذَا قًحَطُوْا اِسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بِنْ عَبْدُ الْمُطَلِبِ فَقَالَ الَّلهُمَّ إِنَّا كُنَا نًتَوَسَلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلَ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ رواه البخارى
“Sesungguhnya Anas bin Malik r.a (berkata): apabila musim kemarau tiba, Umar bin Khaththab bertawassul melalui Abbas bin Abdul Muthalib seraya berdoa: ‘yaa Allah SWT, kami memohon dan bertawassul kepadaMu dengan (hak) Nabi kami (Muhammad SAW), maka turunkanlah hujan kepada kami’. Kami bertawassul melalui paman Nabi kami; maka turunkanlah hujan, Anas kemudian menuturkan: maka turunlah hujan”. (HR. Imam Bukhari r.a) .
Nash-nash di atas pada kesimpulannya merupakan bentuk-bentuk khilafiyyah akidah yang tidak dapat serta merta dijustifikasi sebagai suatu bid’ah, justru apabila hal-hal yang menjadi perintah Allah SWT ini kemudian diyakini sebagai bid’ah, maka justu akan menjerumuskan pendakwa tersebut sebagai golongan pengingkar Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Syirik Akbar sebagai dosa terbesar merupakan suatu pokok dosa yang substansinya adalah penyetaraan Allah SWT kepada yang lainnya sebagai sumber tempat meminta dan sumber kekuatan. Sementara Syirik Asghar (kecil) termasuk didalamnya adalah sifat sombong dan takabbur. Sombong adalah suatu sifat yang memiliki dua indikator. Pertama, merasa dirinya lebih dari orang lain. Kedua, meremehkan orang lain. Dus, apabila dua cabang sifat ini bertemu pada hati seseorang maka orang tersebut sebenarnya telah terjangkiti sifat sombong sebagai sifat dari syaithan.
2. RIYA’ (Al-Amalu liajlinaasi)
Cabang lain dari syirik asghar ini adalah sifat riya’ (al-amal liajlinnas), riya’ adalah sifat seorang hamba Allah SWT yang di dalam amaliyah/aktivitas hidup dan ibadahnya semata-mata mencari perhatian manusia, dan bukan Allah SWT. Karakteristik yang jelas dari pemilik sifat ini adalah ia akan tekun beribadah apabila manusia sedang memperhatikannya atau memujinya. Sebaliknya apabila lepas dari jangkauan pandangan manusia ataupun dicerca/dikritik maka ia menjadi sangat malas.
Riya’ termasuk jenis penyakit hati yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa. Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Dan berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya' maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT dan pelakunya mendapat ancaman keras dari Allah SWT. Oleh karena itu Nabi SAW sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
"Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau menjawab: "Ar Riya'." (HR. Ahmad dari Shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)
Ar-riya' (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan. Sedangkan yang dimaksud dengan riya' adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan ibadah tertentu seperti shalat, shaum (puasa), atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan pujian manusia. Semakna dengan riya' adalah Sum'ah yaitu memperdengarkan suatu amalan ibadah tertentu yang sama tujuannya dengan riya' yaitu supaya mendapat perhatian dan pujian manusia.
Perlu diketahui bahwa segala amalan itu tergantung pada niatnya. Bila suatu amalan itu diniatkan ikhlas karena Allah SWT maka amalan itu akan diterima oleh Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, bila amalan itu diniatkan agar mendapat perhatian, pujian, atau ingin meraih sesuatu dari urusan duniawi, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan." (Muttafaqun 'alaihi)
Ibadah merupakan hak Allah SWT yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah SWT, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya. Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam firman-Nya (artinya):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus." (Al Bayyinah: 5)
Bentuk-Bentuk Riya'
Bentuk-bentuk riya' beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, ataupun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka semua ini tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya' yang dilarang dalam agama Islam.
Hukum Riya'
Riya' merupakan dosa besar. Karena riya' termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari Sahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau SAW menjawab: "Ar Riya'."
Bahaya Riya'
Selain riya' merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam marabahaya. Penyakit riya' merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena memilki dampak negatif yang luar biasa. Allah SWT berfirman (artinya):
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir". (Al Baqarah: 264)
Dalam konteks ayat di atas, Allah SWT memberitakan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau menyakiti perasaan si penerima maka akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya' yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah SWT. Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatanya saja (riya'), tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah SWT mengancam bahwa kesudahan yang akan dialami orang-orang yang berbuat riya' adalah kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya:
"Wail (Kecelakaanlah) bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya', … " (Al Maa'uun: 4-7)
Diperkuat lagi, adanya penafsiran dari Ibnu Abbas r.a, makna Al-Wail adalah ungkapan dari dasyatnya adzab di akhirat kelak . Sedangkan dalam hadits yang shahih, Nabi SAW menjelaskan bahwa ancaman bagi orang yang berbuat riya' yaitu Allah SWT akan meninggalkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah r.a, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: "Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersama-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu".
Bagaimana Cara Mengobatinya?
Di antara cara untuk mencegah dan mengobati perbuatan riya' adalah:
1. Mengetahui dan memahami keagungan Allah SWT, yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.
"Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya", …" (Ali Imran: 29)
2. Selalu mengingat akan kematian.
Ketahuilah, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Ketika seseorang selalu mengingat kematian maka ia akan berusaha mengikhlaskan setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia merasa khawatir ketika ia berbuat riya' sementara ajal siap menjemputnya tanpa minta izin /permisi terlebih dahulu. Sehingga ia khawatir meninggalkan dunia bukan dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya) tapi su'ul khatimah (jelek akhirnya).
3. Berdoa; dengan memohon perlindungan Allah SWT dari sifat riya’.
Rasulullah SWT telah mengajarkan kepada kita do'a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari Shahabat Abu Musa Al Asy'ari bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai manusia takutlah akan al-Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut. Maka berkata padanya: "Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut? Maka berkata Rasulullah SAW:" Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه
4. Terus memperbanyak mengerjakan amalan shalih.
Berusahalah terus memperbanyak amalan shalih, baik dalam keadaan sendirian atau pun dihadapan orang lain. Karena tidaklah dibenarkan seseorang meninggalkan suatu amalan yang mulia karena takut riya'. Seseorang yang tidak melakukan suatu amalan karena takut dianggap riya’ maka sesungguhnya orang tersebut justru telah terjerumus ke dalam riya’. Mengapa? Karena sesungguhnya dihati orang tersebut semenjak awal telah bersemayam sifat riya’.
Beberapa Perkara yang bukan Termasuk Riya'
1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Shahabat Abu Dzar, bahwa ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : "Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?" Maka Rasulullah SAW menjawab: "Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin".
2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Shahabat Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Tidaklah masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik) dari kesombongan." Berkata seseorang: "(Bagaimana jika) seseorang menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan? Seraya Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya Allah SAW itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain".
3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.
Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِْسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
"Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya." (HR. Muslim no. 1017)
4. Bukan termasuk riya' pula bila ia semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. Karena ia merasa terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini selalu menjaga dan mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.
3. KHURAFAT
Sebenarnya cabang syirik ini berpangkal dari sifat khurafat, dimana posisi Allah SWT sebagai Penguasa Tunggal segala sesuatu disekutukan dengan yang lainnya, baik dari bangsa manusia, jin, malaikat, syaithan maupun benda-benda. Fenomena ini masih terjadi pada masyarakat dengan menjadikan selain Allah SWT sebagai tempat memohon sesuatu, seperti melakukan pesugihan (memohon harta kepada bangsa Jin dan Syaithan) dengan pengorbanan sesaji bahkan nyawa pada saat-saat tertentu. Fenomena lainnya adalah mendatangi para dukun guna memohon kemudahan akan rezeki (pelarisan), jodoh (pengasihan) dan bahkan menyihir lawan bisnisnya. Justru, kini sihir ataupun hipnotisme ini adalah bentuk khurafat yang paling populer ditengah-tengah umat. Hal ini dibuktikan dengan maraknya publikasi khurafat pada media-media elektronik sebagai bentuk hiburan alternatif, seolah-olah media ingin memaklumkan bahwa sihir adalah suatu hal yang lumrah dan tidak membahayakan akidah.
1. KEJAHILIYYAHAN/KEBODOHAN.
Kebodohan atau ketidak-tahuan akan ilmu-ilmu keIslaman baik dalam ranah akidah, syari’at maupun tasawwuf adalah hal yang paling umum ditemui dari penodaan agama. Penodaan agama ini dapat saja berupa munculnya pengakuan kenabian, pembid’ahan atas ajaran agama shahihah yang berada di luar pengetahuan ilmu diniyyahnya, pemaknaan ajaran Islam secara dangkal dan bahkan pengkafiran muslim lainnya yang tidak sefaham dengan fahamnya (ta’asub) yang apabila diteliti lebih dalam justru sebenarnya sistem faham yang didakwahkannya tersebut yang bermasalah.
Kebodohan (kejahiliyyahan) ini adalah tanggung-jawab seluruh umat Islam guna menanggulanginya dengan secara intens berkomunikasi kepada Ulama ad-Diin yang terdapat pada wilayahnya berada. Dengan kebodohan maka seseorang akan dengan mudah memutarbalikkan hukum sehingga ia telah menjerumuskan dirinya kepada jurang kebinasaan.
2. Bid’ah Sayyi’ah.
1. Pendangkalan Akidah. (filsafatisme tauhid/sekular/pluralisme tauhid)
2. Hedonisme.
3. Singkretisme.
4. Puritanisme.
5. Politic interest
Berdialektika tentang iman, maka terdapat pertanyaan besar yang jawabannya dapat menjadi suatu sintesa dan paradigma atas iman umat manusia. “Apakah iman dalam sejarah agama manusia benar-benar unik antara satu agama dengan agama lainnya?, ataukah justru identik dengan sejumlah dispersi diberapa sisi-sisi?”. Dari riset literatur dan fenomena empirik yang ada, maka sebenarnya dapatlah disimpulkan suatu hipotesa; bahwa semua agama bermula dari ajaran tauhid (monotheism).
Iman sebagai suatu bentuk keyakinan kepada Sang Ghaib yang memiliki Maha Daya adalah sesuatu yang secara naluriah telah ada pada benak setiap manusia. Seorang atheis sekalipun akan memohon suatu pertolongan dari yang Maha Ghaib apabila sedang berada pada puncak krisis dalam hidupnya. Berawal dari benih iman inilah kemudian Allah SWT dalam sejarah umat manusia mengirimkan utusannya dari kalangan manusia kepada umatnya guna memberikan podoman perawatan demi kesahihannya.
Sejarah agama-agana telah mencatat bahwa setiap agama samawi yang pernah diturunkan baik kepada Bangsa Israel dan Arab, senantiasa meletakkan Allah SWT sebagai puncak heararki kekuasaan di alam semesta ini. Pada perkembangannya sang waktulah kemudian secara perlahan yang mendistorsi pemahaman demi pemahaman yang secara holistik mengganti wajah ajaran agama yang ada, bahkan hal yang sama juga merudung ajaran Islam.
B. IFTIRAQ UL-UMMAH: Suatu Kajian Theologis
Dalam dasarwarsa terakhir ini, mengemuka sejumlah fenomena menarik yang layak guna diangkat dan dikomentari dalam dinamika ajaran Islam di Indonesia. Dinamika yang dimaksud adalah merebaknya aliran-aliran kepercayaan dan fundamentalisme agama yang menisbatkan ajaran atau organisasinya sebagai bagian integral dari agama Islam. Bahkan, sebagian diantara pemimpin spiritualnya secara tegas mendakwakan diri sebagai utusan (Nabi/Rasul/Manifestasi Jibril/Imam Mahdi) dari Allah SWT pasca kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Apakah yang melatarbelakangi gejala distorsi keagamaan ini? Lalu mengapa pula ‘agama’ ini senantiasa mampu menarik minat masyarakat luas guna menganutnya?.
Tentu, fenomena empirik ini tidak berdiri sendiri. Terlalu banyak faktor yang memungkinkan terjadinya distorsi keagamaan ini mengemuka ke ranah keyakinan. Sebaliknya, fenomena ini juga tidak boleh serta merta diberi stretotip sesat oleh umat Islam sebelum adanya upaya riset serius guna memberikan justifikasi yang adil. Namun demikian, pada dasarnya hal-hal yang mencemari ‘standar baku’ Akidah Islamiyyah itu bersumber dari beberapa tema yang akan menjadi sub-sub pembahasan kemudian. Munculnya gerakan keyakinan yang dimotori oleh beberapa oknum umat Islam seperti Lia Eden, Ahmad Mushaddiq dan Ahmad Mirza Ghulam merupakan bukti emprik akan adanya gelombang pergeseran sendi-sendi akidah yang nyata-nyata tengah terjadi di ranah umat.
(رواه الترمذى)وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَانَبِىَّ بَعْدَى
“Akan ada dilingkungan umatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa ia adalah nabi. Saya (Muhammad) adalah Nabi Penutup, tiada lagi (pengangkatan) nabi sesudahku” . (HR. Imam Tirmidzi).
Secara empirik terjadinya distorsi ajaran Islam, baik berupa syirik (politheisme), bid’ah dhalalah, khurafat, pemurtadan, singkretisme dan lain-lainnya pada dasarnya lebih disebabkan oleh hal-hal yang sebenarnya bersifat profan. Premis ini dapat dilihat dari migrasi akidah Islamiyyah oleh upaya kaum misionari yang diakibatkan oleh wabah kemiskinan pada ranah umat, minimnya jaminan kesehatan dan pendidikan, terputusnya rantai dakwah Islam dan lainnya. Political interest , ambisi pribadi eksponen Ulama dan metodologi tafsir nash-nash agama adalah hal lain yang turut memalingkan kaum Muslimin dari akidahnya.
Sebenarnya hal sebagaimana tersebut di atas merupakan deskripsi akan riak bid’ah akidah di akhir zaman. Namun demikian gejala tersebut masih tergolong kecil dibandingkan dengan kenyataan zaman di masa lampau. Oleh Nabi Muhammad SAW fenomena ini sebenarnya telah jauh-jauh hari diingatkan tentang munculnya deviasi (iftiraq) keyakinan tersebut. Hal ini sekaligus merupakan pertanda akan merambatnya zaman menuju puncak kehancurannya (kiamat kubro).
Saat sekarang ini adalah akhir dari zaman panjang dalam puncak sejarah umur dunia. Secara empirik perpecahan-perpecahan (iftiraqul ummah) di dalam lingkungan umat Islam sudah sangat nyata-nyata tampak. Perpecahan ini sudah sangat tajam dan sulit untuk didamaikan, terlebih dipersatukan.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِى فَسَيَرَى ِإخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الخَلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المُهْدِيِّيٍنَ، (أبوداود) تَمَسَكُوابِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ
“Maka barang siapa yang hidup (lebih lama) diantaramu sepeninggalku kelak, niscaya akan menyaksikan banyaknya perselisihan paham. Maka apabila kamu hidup pada zaman itu, berpegang teguhlah pada Sunnahku dan sunnah-sunnah Khalifah ar-Rasyidiin yang dianugerahi petunjuk. Dan bersiteguhlah kamu dengan gigitan geraham (sungguh-sungguh)”. (HR. Imam Abu Dawud r.a) .
أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلٰى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. ألنَّاجِيَّةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ وَالْبَاقُونَ هَلْكَى. قِيْلَ: وَمَنْ النَّاجِيَّةُ؟ قَالَ: أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ. قيل: وَمَنْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ؟ (إبن مجاه و الترمذى) قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
“Nabi SAW telah mengabarkan: ‘Bahwa umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang selamat hanya satu, lainnya akan binasa (celaka di akhirat). (Sahabat bertanya:) ‘Siapakah yang selamat?’. Beliau menjawab: ‘Ahlussunnah wal Jama’ah’. (Sahabat kembali bertanya:) ‘Siapakah yang dimaksud Ahlussunnah wal Jama’ah?’. Beliau menjawab: ‘Golongan yang mengikuti apa yang saya lakukan beserta para sahabatku’.” (HR. Imam Ibn Majah dan Imam At-Turmudzi r.a).
،َعَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِنْ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلٰى إِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِى عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالَ مَنْ هِىَ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى. رواه الترمذى
Dari Abdullah Ibnu Amr, telah bersabda Rasulullah SAW: “Bahwasanya Bangsa Israel telah bercerai-berai menjadi 72 aliran dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran; seluruhnya masuk ke neraka, kecuali satu aliran’. Para Sahabat bertanya: ‘Siapakah aliran yang satu itu ya Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Mereka yang mengikuti sunnahku dan sahabat-sahabatku’.” (HR. Imam Turmudzi r.a) .
Menanggapi kehujjahan dan tafsir hadits di atas, para Ulama terbagi ke dalam tiga golongan :
1. Jumhur (mayoritas) Ulama menilai hadits tersebut cukup kuat, mengingat banyak sumber sanadnya dan tergolong sebagai hadits mutawwatir (yang banyak periwayatannya). Di antara karya-karya yang mengukuhkan kesahihan hadits di atas dari para Ulama jumhur ini adalah kitab Al-Farqu bain al-Firaq karya Imam Abdul Qahir al-Baghdadi. Kitab At-Tabshir fi al-Diin karya Imam Abu al-Mughaffar al-Isfarayini dan kitab Maqaalat al-Firqah al-Najiyah karya Al-Qadhi ‘Adhuddin Abdul Rahman al-Iji.
2. Ulama yang tidak menolak, namun lebih memilih tidak mengangkat hadits-hadits tersebut di dalam kitabnya. Para Ulama ini adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari penulis kitab Maqaalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin dan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Razi (Imam Ibnu al-Khatib) penulis kitab I’tiqadaat Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin.
3. Ulama yang menolak hadits tersebut. Para Ulama ini berpendapat meskipun hadits di atas merupakan hadits mutawwatir namun banyak mengandung kelemahan. Ulama yang menolak hadits ini adalah tokoh Madzhab Zhahiri, yaitu Ibn Hazm penulis kitab Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal.
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى أَخِرِ الزَّمَانِ اَحْدَاثُ اَلْاَسْنَانِ سُفَهَاءُ اَلْاَحْلاَمُ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِالْبَرِيَّةِ. لَايُجَاوِزُ اِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْدِّيْنِ كَمَايَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَاَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ. فتح البارى. الجزء العاشر صححفة:٣١٥
“Akan muncul suatu golongan di akhir zaman, orang-orang muda berpaham jelek/buruk. Mereka banyak mengucapkan perkataan ‘Khairi Bariyah’ (maksudnya: ‘bahwa ini adalah firman-firman Allah yang dibawa oleh Nabi’). (Padahal) Iman mereka tidak melampaui kerongkongan merka. Mereka keluar dari agama bagaikan meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu maka lawanlah mereka”. (HR. Imam Bukhari r.a) .
Hadits di atas dengan gamblang mengabarkan kepada umat Islam yang hidup pada akhir zaman akan munculnya generasi muda yang mengusung simbolisme Islam dan gemar mengeluarkan fatwa-fatwa dengan mengutip Al-Qur’an dan Al-Hadits, namun sesungguhnya Iman dan pendalaman agama mereka sangat tipis sekali. Dan pada kenyataannya, gerakan-gerakan hizbut takfiriyyah ini pada masa sekarang ini sudah sangat marak sekali. Dan umat Islam dalam hal ini memiliki kewajiban untuk melakukan perlawanan, baik secara ideologis (aqidah), keilmuaan dan sosial.
تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ حَتَّى تَأْتِيْهِمْ أَمْرُاللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ. رواه البخارى
“Akan ada segolongan umat yang tetap atas kebenaran hingga tiba hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu”. (HR. Imam Bukhari r.a)
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Ba’alwi dalam karyanya Bughyatul Mustarsyidin menyebutkan bahwa sesungguhnya 72 firqah/Islam sempalan sebagaimana telah disebutkan hadits di atas berpangkal dari 7 firqah/sekte utama, yaitu:
1) Sekte Syi’ah, yaitu aliran yang secara hiperbolis memuja Sahabat Ali k.w. golongan ini tidak mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar r.a, Umar r.a dan Utsman r.a. Bahkan menganggap Malaikat Jibril telah keliru menurunkan wahyu yang semestinya kepada Ali bin Abi Thalib r.a, bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam ilmu hadits, golongan ini tidak mengakui seluruh hadits dari kalangan sahabat yang masyhur. Sekte Syi’ah ini kemudian terpecah menjadi 22 aliran.
2) Sekte Khawarij, yaitu aliran yang berlebih-lebihan membenci Ali bin Abi Thalib r.a bahkan mengutuknya dan mengkafirkan beliau. Ciri khas yang menonjol dari aliran ini adalah sifat dan sikap kerasnya terhadap umat Islam lain yang tidak sepaham dengan memberikan strerotip kafir dan munafik. Yang menarik, aliran ini berfatwa bahwa orang-orang yang berdosa besar akan menjadi kafir. Sekte Khawarij ini kemudian terpecah menjadi 20 aliran.
3) Sekte Muktazilah, aliran ini berfaham bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat (karakteristik/ciri-ciri), bahwa apapun yang diperbuat oleh manusia adalah semata-mata hasil kekuatannya sendiri, bahwa manusia tidak akan melihat Allah SWT di syurga dan orang-orang yang berdosa besar akan ditempatkan di antara dua tempat, bahwa mi’raj Nabi Muhammad SAW hanyalah dengan ruhnya saja dan lain-lainnya. Ciri yang menonjol dari sekte ini adalah penggunaan akal atau rasionalitasnya yang menjadi tolak ukur kebenaran nash beragama. Sekte Muktazilah ini kemudian terpecah menjadi 20 aliran.
4) Sekte Murji’ah, yaitu golongan yang menfatwakan bahwa bermaksiyat setelah seseorang beriman tidak akan berdosa, selama ia menyakini pada syahadatnya ia akan dijamin masuk ke dalam syurga. Hal ini merupakan hasil analogi bahwa apabila seseorang yang kafir tidak akan dicatat berpahala apabila melakukan suatu kebajikan. Sekte Murji’ah ini kemudian terpecah menjadi 5 aliran.
5) Sekte Najariyah, yaitu aliran yang memfatwakan perbuatan manusia adalah semata-mata dijadikan oleh Allah SWT. Sekte ini juga berpendapat bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat (karakteristik), sehingga Allah SWT adalah sesuatu berada diluar akal, hati dan ilmu pengetahuan (unknownledge) manusia. Sekte ini pada perkembangannya pecah menjadi tiga golongan sempalan. Sekte Najariyah ini kemudian terpecah menjadi 3 aliran.
6) Sekte Jabariyah, yaitu aliran yang meyakini bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk majbur (tidak berdaya sama sekali) dan tidak memiliki usaha (kasab) sama sekali. Sekte ini mempercayai bahwa apapun yang terjadi pada manusia, tanpa usaha sekalipun maka sesuatu tersebut akan terjadi. Aliran ini disebut juga sebagai aliran fatalistik.
7) Sekte Musyabbihah, adalah aliran Islam sempalan yang meyakini bahwa ada keserupaan antara manusia dengan Allah SWT, seperti: duduk, memiliki tangan, melihat dengan indra dan lain-lain.
Adapun pada masa sekarang ini, sebaran aliran di atas tersebut telah marak pada sejumlah sekte dan lembaga-lembaga keIslaman modern. Para Ulama mendefenisikan sekte Qadariyah sebagai bagian aliran Muktazilah, aliran Bahaiyyah dan Ahmadiyah Qadyan termasuk penganut sekte Syi’ah, penganut Ibnu Taimiyyah tergolong sebagai sekte Musyabbihah dan pada perkembangannya Aliran Wahabi dewasa ini merupakan manifestasi dan penganjur dari sekte Musyabbihah menurut pemahaman Ibnu Taimiyyah. Paparan ini sekaligus sebagai peringatan bagi umat Islam di Indonesia akan maraknya upaya penyimpangan akidah. Sehingga sejalan dengan perintah Rasulullah SAW maka merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk mengenal sejumlah sekte tersebut guna ditanggulangi. Dari deskripsi di atas pula maka dapatlah disimpulkan bahwa jumlah aliran sempalan yang bersumber dari ajaran Islam yang terdeviasi adalah sebagai berikut :
1. Aliran Syi’ah 22 Sekte
2. Aliran Khawarij 20 Sekte
3. Aliran Muktazilah 20 Sekte
4. Aliran Murji’ah 5 Sekte
5. Aliran Najariyah 3 Sekte
6. Aliran Jabariyah 1 Sekte
7. Aliran Musyabihah 1 Sekte +
Jumlah 72 Sekte/ Aliran Sempalan, jumlah ini menjadi 73 ditambah Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah.
C. PETA SIKAP FASADAH YANG MERUSAK AQIDAH ISLAMIYYAH
Ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang menetapkan ke-Esa-an Allah SWT dan sebagai satu-satunya pemberi dan tempat meminta bagi umat Islam . Namun demikian pada prakteknya ketauhidan ini dapat saja rusak dan bahkan gugur oleh beberapa hal sebagaimana deskripsi di bawah ini:
1. SYIRIK BILLAH (شِرْكُ بِاللهِ)
Syirik secara akar bahasa (etimologis) berasal dari kata شَرَك yang bermakna sekutu (dengan tingkat daya yang sepadan ataupun tidak). Sementara secara terminologis, syirik adalah aktivitas seorang muslim yang menempatkan makhluk, baik berupa sesuatu atau seseorang yang menggantikan fungsi Allah SWT sebagai fokus/tujuan menyembah dan meminta, baik manifestasinya dalam bentuk keyakinan, ucapan maupun tingkah-laku. Kaum musyrikin dalam ajaran Islam di pandang lebih hina bila dibandingkan dengan kaum kafirin. Analoginya adalah bila kaum kafirin (non-muslim) menyatakan keingkarannya terhadap Allah SWT secara terang-terangan dan gentlement. Sementara kaum musyrikin adalah golongan yang secara zhahir menyatakan keIslamannya, namun secara terselubung senantiasa menyatakan keingkaran/pengkhianatannya terhadap Allah SWT. Dari inilah maka dapat dipahami mengapa ajaran Islam menempatkan syirik sebagai dosa pada rating teratas.
لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. لقمان: ١٣
“Janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kesesatan yang paling besar” (QS. Luqman:13).
يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلَايَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلَّاقَلِيْلًَا. النسأ: ١٤٢
“Mereka bermaksud riya’ (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sangat sedikit” (QS. An-Nisaa’: 142).
Lawan dari sikap syirik ini adalah tauhidu lillah/توحيد لألله (pengesaan terhadap Allah SWT) dan prakteknya adalah sikap tawakal (berserah diri sepenuh hati dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT). Adapun pembagian syirik ini menurut Raghib al-Asybahani di bagi ke dalam dua klasifikasi. Pertama, syirik besar (شرك اكبر) yaitu menetapkan adanya sekutu bagi Allah SWT, dan ini adalah pengkhianatan terbesar di dalam ajaran Islam. Taubatan nashuha dalam hal ini dipandang sebagai satu-satunya jalan kembali kepada Allah SWT, contohnya adalah meminta sebagai ghayah perlindungan ataupun rezeki kepada Syaitan, Jin, Malaikat dan Manusia serta benda-benda. Kedua, syirik khafi (samar) yang merupakan bentuk penyekutuan Dzat Allah SWT melalui gerak hati, ucapan dan perbuatan yang tidak dinyatakan langsung sebagai suatu sikap syirik . Contoh dari bentuk syirik ini adalah sikap jumawa (sombong), riya’ dan aktivitas seorang muslim yang cenderung menomor-duakan ataupun mensetarakan makhluk kepada Allah SWT.
Namun demikian, syirik bukanlah wilayah yang dapat dituduhkan ataupun dilekatkan sebagai strerotip kepada seseorang dengan membabi-buta. Sebagai contoh ketika seseorang yang sakit dan meminta bantuan kepada seorang dokter, dan kemudian ia sembuh. Bukan berarti ketika ia sedang meminta tolong dan meminta kesembuhan kepada dokter tersebut bisa dikatagorikan sebagai syirik kepada Allah SWT dengan dalih hanya kepada Allah SWT tempat manusia meminta . Berangkat dari mekanisme inilah maka di dalam ajaran Islam kemudian berkembang konsep wasilah dengan tetap memposisikan Allah SWT sebagai ghayah (tujuan) sebagaimana diungkapkan oleh firman Allah SWT:
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اِتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اَلْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِى سَبِيْلِيْهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah SWT dan dekatkanlah dirimu kepadaNya dengan wasilah, dan bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada jalanNya; niscaya kamu sekalian akan menjadi golongan yang beruntung”. (QS. Al-Maidah [5]: 35).
أُوَلئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ إِلىٰ رَبِّهِمْ اَلْوَسِيْلَةً أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتًهُ وَيَخَاقُوْنَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًَا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Tuhannya (Allah SWT) sebagai wasilah-wasilah terdekat dan (mereka) senantiasa mengharapkan rahmatNya dan sangat takut akan kedatangan adzabNya. Sesungguhnya adzab dari Tuhanmu adalah sesuatu yang seharusnya ditakuti”. (QS. Al-Isra’: 57).
أنّ عمر بن الخطاب رضى الله عنهم كَانَ إِذَا قًحَطُوْا اِسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بِنْ عَبْدُ الْمُطَلِبِ فَقَالَ الَّلهُمَّ إِنَّا كُنَا نًتَوَسَلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلَ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ رواه البخارى
“Sesungguhnya Anas bin Malik r.a (berkata): apabila musim kemarau tiba, Umar bin Khaththab bertawassul melalui Abbas bin Abdul Muthalib seraya berdoa: ‘yaa Allah SWT, kami memohon dan bertawassul kepadaMu dengan (hak) Nabi kami (Muhammad SAW), maka turunkanlah hujan kepada kami’. Kami bertawassul melalui paman Nabi kami; maka turunkanlah hujan, Anas kemudian menuturkan: maka turunlah hujan”. (HR. Imam Bukhari r.a) .
Nash-nash di atas pada kesimpulannya merupakan bentuk-bentuk khilafiyyah akidah yang tidak dapat serta merta dijustifikasi sebagai suatu bid’ah, justru apabila hal-hal yang menjadi perintah Allah SWT ini kemudian diyakini sebagai bid’ah, maka justu akan menjerumuskan pendakwa tersebut sebagai golongan pengingkar Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Syirik Akbar sebagai dosa terbesar merupakan suatu pokok dosa yang substansinya adalah penyetaraan Allah SWT kepada yang lainnya sebagai sumber tempat meminta dan sumber kekuatan. Sementara Syirik Asghar (kecil) termasuk didalamnya adalah sifat sombong dan takabbur. Sombong adalah suatu sifat yang memiliki dua indikator. Pertama, merasa dirinya lebih dari orang lain. Kedua, meremehkan orang lain. Dus, apabila dua cabang sifat ini bertemu pada hati seseorang maka orang tersebut sebenarnya telah terjangkiti sifat sombong sebagai sifat dari syaithan.
2. RIYA’ (Al-Amalu liajlinaasi)
Cabang lain dari syirik asghar ini adalah sifat riya’ (al-amal liajlinnas), riya’ adalah sifat seorang hamba Allah SWT yang di dalam amaliyah/aktivitas hidup dan ibadahnya semata-mata mencari perhatian manusia, dan bukan Allah SWT. Karakteristik yang jelas dari pemilik sifat ini adalah ia akan tekun beribadah apabila manusia sedang memperhatikannya atau memujinya. Sebaliknya apabila lepas dari jangkauan pandangan manusia ataupun dicerca/dikritik maka ia menjadi sangat malas.
Riya’ termasuk jenis penyakit hati yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa. Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Dan berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya' maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT dan pelakunya mendapat ancaman keras dari Allah SWT. Oleh karena itu Nabi SAW sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
"Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau menjawab: "Ar Riya'." (HR. Ahmad dari Shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)
Ar-riya' (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan. Sedangkan yang dimaksud dengan riya' adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan ibadah tertentu seperti shalat, shaum (puasa), atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan pujian manusia. Semakna dengan riya' adalah Sum'ah yaitu memperdengarkan suatu amalan ibadah tertentu yang sama tujuannya dengan riya' yaitu supaya mendapat perhatian dan pujian manusia.
Perlu diketahui bahwa segala amalan itu tergantung pada niatnya. Bila suatu amalan itu diniatkan ikhlas karena Allah SWT maka amalan itu akan diterima oleh Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, bila amalan itu diniatkan agar mendapat perhatian, pujian, atau ingin meraih sesuatu dari urusan duniawi, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan." (Muttafaqun 'alaihi)
Ibadah merupakan hak Allah SWT yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah SWT, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya. Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam firman-Nya (artinya):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus." (Al Bayyinah: 5)
Bentuk-Bentuk Riya'
Bentuk-bentuk riya' beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, ataupun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka semua ini tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya' yang dilarang dalam agama Islam.
Hukum Riya'
Riya' merupakan dosa besar. Karena riya' termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari Sahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau SAW menjawab: "Ar Riya'."
Bahaya Riya'
Selain riya' merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam marabahaya. Penyakit riya' merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena memilki dampak negatif yang luar biasa. Allah SWT berfirman (artinya):
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir". (Al Baqarah: 264)
Dalam konteks ayat di atas, Allah SWT memberitakan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau menyakiti perasaan si penerima maka akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya' yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah SWT. Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatanya saja (riya'), tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah SWT mengancam bahwa kesudahan yang akan dialami orang-orang yang berbuat riya' adalah kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya:
"Wail (Kecelakaanlah) bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya', … " (Al Maa'uun: 4-7)
Diperkuat lagi, adanya penafsiran dari Ibnu Abbas r.a, makna Al-Wail adalah ungkapan dari dasyatnya adzab di akhirat kelak . Sedangkan dalam hadits yang shahih, Nabi SAW menjelaskan bahwa ancaman bagi orang yang berbuat riya' yaitu Allah SWT akan meninggalkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah r.a, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: "Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersama-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu".
Bagaimana Cara Mengobatinya?
Di antara cara untuk mencegah dan mengobati perbuatan riya' adalah:
1. Mengetahui dan memahami keagungan Allah SWT, yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.
"Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya", …" (Ali Imran: 29)
2. Selalu mengingat akan kematian.
Ketahuilah, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Ketika seseorang selalu mengingat kematian maka ia akan berusaha mengikhlaskan setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia merasa khawatir ketika ia berbuat riya' sementara ajal siap menjemputnya tanpa minta izin /permisi terlebih dahulu. Sehingga ia khawatir meninggalkan dunia bukan dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya) tapi su'ul khatimah (jelek akhirnya).
3. Berdoa; dengan memohon perlindungan Allah SWT dari sifat riya’.
Rasulullah SWT telah mengajarkan kepada kita do'a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari Shahabat Abu Musa Al Asy'ari bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai manusia takutlah akan al-Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut. Maka berkata padanya: "Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut? Maka berkata Rasulullah SAW:" Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه
4. Terus memperbanyak mengerjakan amalan shalih.
Berusahalah terus memperbanyak amalan shalih, baik dalam keadaan sendirian atau pun dihadapan orang lain. Karena tidaklah dibenarkan seseorang meninggalkan suatu amalan yang mulia karena takut riya'. Seseorang yang tidak melakukan suatu amalan karena takut dianggap riya’ maka sesungguhnya orang tersebut justru telah terjerumus ke dalam riya’. Mengapa? Karena sesungguhnya dihati orang tersebut semenjak awal telah bersemayam sifat riya’.
Beberapa Perkara yang bukan Termasuk Riya'
1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Shahabat Abu Dzar, bahwa ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : "Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?" Maka Rasulullah SAW menjawab: "Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin".
2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Shahabat Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Tidaklah masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik) dari kesombongan." Berkata seseorang: "(Bagaimana jika) seseorang menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan? Seraya Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya Allah SAW itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain".
3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.
Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِْسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
"Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya." (HR. Muslim no. 1017)
4. Bukan termasuk riya' pula bila ia semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. Karena ia merasa terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini selalu menjaga dan mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.
3. KHURAFAT
Sebenarnya cabang syirik ini berpangkal dari sifat khurafat, dimana posisi Allah SWT sebagai Penguasa Tunggal segala sesuatu disekutukan dengan yang lainnya, baik dari bangsa manusia, jin, malaikat, syaithan maupun benda-benda. Fenomena ini masih terjadi pada masyarakat dengan menjadikan selain Allah SWT sebagai tempat memohon sesuatu, seperti melakukan pesugihan (memohon harta kepada bangsa Jin dan Syaithan) dengan pengorbanan sesaji bahkan nyawa pada saat-saat tertentu. Fenomena lainnya adalah mendatangi para dukun guna memohon kemudahan akan rezeki (pelarisan), jodoh (pengasihan) dan bahkan menyihir lawan bisnisnya. Justru, kini sihir ataupun hipnotisme ini adalah bentuk khurafat yang paling populer ditengah-tengah umat. Hal ini dibuktikan dengan maraknya publikasi khurafat pada media-media elektronik sebagai bentuk hiburan alternatif, seolah-olah media ingin memaklumkan bahwa sihir adalah suatu hal yang lumrah dan tidak membahayakan akidah.
1. KEJAHILIYYAHAN/KEBODOHAN.
Kebodohan atau ketidak-tahuan akan ilmu-ilmu keIslaman baik dalam ranah akidah, syari’at maupun tasawwuf adalah hal yang paling umum ditemui dari penodaan agama. Penodaan agama ini dapat saja berupa munculnya pengakuan kenabian, pembid’ahan atas ajaran agama shahihah yang berada di luar pengetahuan ilmu diniyyahnya, pemaknaan ajaran Islam secara dangkal dan bahkan pengkafiran muslim lainnya yang tidak sefaham dengan fahamnya (ta’asub) yang apabila diteliti lebih dalam justru sebenarnya sistem faham yang didakwahkannya tersebut yang bermasalah.
Kebodohan (kejahiliyyahan) ini adalah tanggung-jawab seluruh umat Islam guna menanggulanginya dengan secara intens berkomunikasi kepada Ulama ad-Diin yang terdapat pada wilayahnya berada. Dengan kebodohan maka seseorang akan dengan mudah memutarbalikkan hukum sehingga ia telah menjerumuskan dirinya kepada jurang kebinasaan.
2. Bid’ah Sayyi’ah.
1. Pendangkalan Akidah. (filsafatisme tauhid/sekular/pluralisme tauhid)
2. Hedonisme.
3. Singkretisme.
4. Puritanisme.
5. Politic interest
Comments
Post a Comment
Silahkan sematkan respon anda di sini.