Mimpi Santri

Dukuhwaluh.
Aku bersila dengan bibir terkatup dan membisu. Hanya hatiku yang meracau membingarkan suasana. Lalu perlahan namun pasti akupun tertidur pulas ditengah pengajian itu, ditengah polemik yang dilontarkan sang ustadz dihadapan kami. Lalu seperti terbenam ke dalam satu suasana proyeksi itupun muncul.


Aku bergegas dari satu kegiatan kepada kegiatan yang lainnya. Kitab ataupun al-Qur'an seolah melekat pada tubuhku, bila bukan kitab ya al-Qur'an senantiasa berada ditangan ataupun saku bajuku. Kegiatan dimulai semenjak waktu subuh belum tiba. Kami bertahajjud berjama'ah hingga saat adzan subuh menggema. Setelahnya suasana menjadi hening seiring dengan gema pembacaan al-Fatihah dari pembawa materi pengajian; Kyai. Kata demi kata telaten dimaknai oleh jemari mungil yang hadir pada halaqah pengajian rutin ba'da subuh itu. Pengurus seolah ingin suasana itu tetap tercipta tertib, sebelum adzan bergema beberapa kru keamanan membangunkan para santri yang tertidur dan kemudian berpatroli ke dalam kamar-kamar para santri, mencoba menyengat para santri badung.

Peraturan di pesantren ini memang ketat dan disiplin. Tiada suara musik melayu, gelegar suara televisi terlebih para santri yang berwujud fungky, metal ataupun lainnya. Semua terlihat tertib. Semua itu terlihat semakin ekstrim dengan lingkungan yang senantiasa bersih sedari kamar-kamar asrama hingga kamar mandi di dekat masjid sana. Sejujurnya, ini adalah tempat menimba ilmu yang paling ideal menurut berbagai pendapat, meski pada awalnya akan terasa berat bagi para santri.
Image and video hosting by TinyPic
Satu tangan menggamit bahuku. "bangun Mbak, ngajine wis bubar..." terdengar suara berat disebelahku. Ah.. musholla sudah sepi. "ternyata lintasan gambaran tadi hanya mimpi saja" gumamku dalam hati. Sejurus akupun berjalan gontai keluar dari masjid yang terlihat semakin dekil saja; aroma karpet dan kitab yang berserakan seolah "asri" dengan lembar-lembar koran Radar Banyumas yang lebih diminati untuk dibaca oleh para santri. Kulangkahkan kaki menuju kamar, melintasi sampah disepanjang selokan depan asrama dan handuk-handuk yang bertenger ditengah jalanan asrama. "ah.. mana yang harus kuyakini sebagai pesantren? Mimpiku tadi atau kenyataan ini?" gumamku sembari membaringkan tubuh di lantai nan dingin dan sarang tinggi itu. Selesai.

Sumber: Antologi Cerpen Sugeng Riyadi Syamsudien.

Comments

  1. ..jadi kangen ngaji. Yaa Alloh..bilakah?

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan sematkan respon anda di sini.

Popular posts from this blog

Wali Allah di Kabupaten Banyumas

PERKEMBANGAN SEJARAH IMAN UMAT MANUSIA