liur
Liur. Liur itu tercecer di sana dan di sini. Di utara dan di selatan, sementara aku tak bisa apa. Liur bukan saja menajiskan ruang suci itu, ruang di mana aku, dia dan mereka juga kami bertemu Sang Maha Suci. Di ruang bau itu pun Sang Maha Indah kami puja dengan berbagai mantra doa. Ruang itu kini becek, oleh liur itu. Wangi tasbih dan aroma apek seolah saling bergemul. Tiap hari; liur, tasbih, liur, tasbih. Doa kami benar-benar batal terbang karena aroma bau itu.
Musholla atau dangau, terserah mau kau maknai apa ruangan itu. Atau, adakah yang kau cari di sana?, selain Allah Sang Maha Hebat itu tentunya. Apa yang kau cari, kawan. Di ruang pengap itu, di antara gulungan sajadah itu, di antara halaqah yang seharusnya suci itu. Bukankah tempat itu, tempat kita bertemu Dia Yang Maha Di Maha. Tempat di mana seharusnya shalat didirikan, al-Qur’an ditadaruskan, dzikir didawamkan, adzan dan shalawat dikumandangkan. Bukankah tempatmu di sini bukan di sana. Bukankah di sana rumah Allah dan para malaikatnya, sementara kau sendiri manusia. Dia ‘bermukim’ di sana dan kita di sini. Bukannya seharusnya begitu, kawan.
Kini. Tak dapat kubedakan mana liurmu, mana liurnya dan wangi Mushalla. Semua berbaur menjadikan ruang hampa. Aku tak menyalahkanmu kawan. Hanya liurmu, itu saja.
Oleh:
dia yang kini bersajadah.
Krapyak
3 April 2009
Sumber: Antologi Cerpen Santri Sugeng Riyadi Syamsudien.
Musholla atau dangau, terserah mau kau maknai apa ruangan itu. Atau, adakah yang kau cari di sana?, selain Allah Sang Maha Hebat itu tentunya. Apa yang kau cari, kawan. Di ruang pengap itu, di antara gulungan sajadah itu, di antara halaqah yang seharusnya suci itu. Bukankah tempat itu, tempat kita bertemu Dia Yang Maha Di Maha. Tempat di mana seharusnya shalat didirikan, al-Qur’an ditadaruskan, dzikir didawamkan, adzan dan shalawat dikumandangkan. Bukankah tempatmu di sini bukan di sana. Bukankah di sana rumah Allah dan para malaikatnya, sementara kau sendiri manusia. Dia ‘bermukim’ di sana dan kita di sini. Bukannya seharusnya begitu, kawan.
Kini. Tak dapat kubedakan mana liurmu, mana liurnya dan wangi Mushalla. Semua berbaur menjadikan ruang hampa. Aku tak menyalahkanmu kawan. Hanya liurmu, itu saja.
Oleh:
dia yang kini bersajadah.
Krapyak
3 April 2009
Sumber: Antologi Cerpen Santri Sugeng Riyadi Syamsudien.
Comments
Post a Comment
Silahkan sematkan respon anda di sini.