Budaya Menulis dalam Dunia Islam
Budaya di dalam ranah ilmiah lebih dikenal sebagai suatu kebiasaan atau adat yang dipraktekkan secara luas oleh suatu komunitas masyarakat sebagai indetitas yang mewakili masyarakat tersebut. Sedangkan menulis sendiri di dalam perspektif ilmu sejarah (tarikh/history) merupakan mula zaman atau peradaban yang memilah antara dikotomis zaman prasejarah dan sejarah itu sendiri. Prasejarah dimaknai sebagai zaman dimana pada peradaban suatu bangsa mengenal tulisan atau simbol-simbol yang mendokumentasikan suatu informasi tertentu. Tidak ada informasi akurat yang menyatakan dengan pasti tentang bangsa manakah yang pertama kali mengenal tulisan. Konon bangsa Sumeria dari peradaban Mesopotamia adalah bangsa yang pertama kali menggunakan simbol sebagai bentuk dokumentasi informasi.
Dan zamanpun terus berlalu meringkas cerita umat manusia, lalu bagaimana dengan dunia Islam sendiri dalam budaya menulisnya?. Islam sebagai suatu ajaran komprehensif ternyata bukan saja membahas permasalahan agama an sich, namun jauh melingkupi segenap disiplin-disiplin ilmiah lainnya. Ajaran sosial budaya, matematika, pendidikan, ekonomi, sejarah, geologi, fisika, antropologi, astronomi dan metafisika adalah sub-sub ajaran yang termuat di dalam ajaran Islam. Hal ini penting dipahami karena pemahaman manusia selama ini hanya menjadikan agama sebagai stigma atas ajaran Islam. Suatu disiplin ilmu yang selama ini direkam oleh pengetahuan manusia akan menemui jalan buntu ketika dipisahkan dengan ajaran Islam itu sendiri, apapun itu sekalipun berupa ilmu terpopuler sekalipun. Dalam disiplin ilmu fisika misalnya, terdapat kebuntuan berfikir apabila menjadi suatu disiplin ilmu yang mandiri. Fisika adalah ilmu yang sangat menekankan logika sebab akibat (causality), namun ada hikmah yang dapat kita pelajari dari sifat disiplin ilmu fisika tersebut.
Ceritanya begini, suatu ketika seorang guru fisika SMU bertanya kepada murid-murid dikelasnya tentang siklus hujan di bumi. Maka serempak para murid menjawab bahwa hujan disebabkan oleh penguapan air di bumi akibat panas matahari. Ketika sang guru mencecar dengan bertanya, apakah yang menyebabkan matahari mengeluarkan panas, maka dengan serempak pula para murid menjawab bahwa gas heliumlah sebagai penyebab timbulnya panas atau api yang menyelubungi matahari. Namun tahukah anda apakah sebab gas helium itu ada? Ilmu fisika modernpun bakal bungkam demi menjawab hal ini, sebagaimana ketidakmampuannya menjawab apakah api itu?. Cerita di atas merupakan suatu ilustrasi tentang bahayanya ilmu apabila tercerabut dari ajaran Islam yang integral atas segala disiplin ilmu.
Ilmu adalah ruh yang bermukim di dalam aksara wacana. Artinya bahwa budaya menulis telah sangat berjasa mewariskan informasi demi informasi dari suatu generasi kepada generasi selanjutnya hingga sekarang ini.
Riwayat Karya Tulis dalam Dunia Islam
Menelusuri sejarah guna mencari manakah yang terlebih dahulu ada antara menulis dengan membaca adalah sama saja dengan mencari jawaban lebih tua mana antara telur dengan ayam. Secara logika memang akan dipahami bahwa tanpa suatu redaksi tulisan maka mustahil wacana yang dimaksud akan terbaca. Dilema yang serupa justru pernah dialami sendiri oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika pertama kali menerima wahyu. Dapat anda bayangkan bagaimana ‘bingung’nya setiap kita apabila suatu ketika di tengah pekatnya gua di gurun Arabia kemudian diperintah oleh malaikat Jibril untuk ber’iqra’, sementara di depan anda tidak tergelar aksara tulisan sama sekali. Belum lagi bagaimana rasa ngeri yang akan anda derita akibat ‘intimidasi’ sosok malaikat Jibril yang wajahnya saja konon selebar langit malam, saya jamin anda pasti akan menderita shock dan trauma. Harus kita akui memang bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan sosok jempolan yang layak kita teladani keberaniannya.
Penulisan Al-Qur’an al-Karim adalah sejarah awal upaya kodifikasi umat Islam, hal ini terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Momentum kodifikasi firman-firman Allah SWT inilah yang kemudian menginspirasikan karya kodifikasi Hadits pada abad kedua Hijriyah. Bila kodifikasi Al-Qur’an lebih dikarenakan semakin langkanya para hafidz Qur’an akibat peperangan, maka alasan utama upaya kodifikasi al-Hadits lebih cenderung diakibatkan semakin banyaknya para periwayat Hadits yang meninggal dunia akibat faktor usia. Kelak, hasil ke dua upaya kodifikasi inilah yang menjadi mata air inspirasi bagi karya-karya ilmiah para Ulama dan Shalihin sesuai dengan kepakarannya hingga dewasa ini.
Menulis; Budaya yang Pernah Hilang
Seorang penulis pastilah seorang pembaca yang tekun, namun sebaliknya seorang pembaca belum tentu mampu menjadi penulis yang handal. Menulis adalah keterampilan mentransformasi pemikiran dan gagasan kepada orang lain. Dan dalam sejarah kelam umat Islam, penjajahan dan peperangan adalah penyebab utama bagi matinya budaya intelektual dan menulis. Kolonialisme, peperangan dan konflik politik telah tercatat dalam sejarah umat Islam sebagai api yang menghanguskan kreativitas berfikir dari kalangan Ulamanya.
Ulama adalah standar mutu suatu karya tulisan. Predikat ini tidak harus disandang oleh seseorang dengan spesifikasi pemahaman pada ajaran Islam sebagai agama saja, namun juga dapat disandang oleh mereka yang ahli dibidang-bidang lainnya di luar agama. Namun demikian Ulama dengan keahlian diluar bidang agama haruslah memiliki dasar pemahaman tentang agama yang mapan. Tentu sangatlah menggelikan apabila terdapat seseorang yang sangat memahami di seputar ekonomi Islam namun membaca Al-Qur’an saja masih tergagap-gagap. Dari pemahaman tersebut memang tidak mudah untuk menjadi Ulama yang sempurna (‘amiliin).
Mana Karya Tulismu?
Bila gajah mati meninggalkan gadingnya, maka demikian pula manusia mati meninggalkan karya sebagai monumen eksistensinya di dunia. Bila ranah agama digemparkan dengan Al-Qur’an, ranah tasawwuf dengan Ihya’ Ulumuddinnya Imam Ghazali, ranah politik dengan Ahkamus Sulthoniyyahnya Imam dan ranah fiqh dengan Al-Umm karya Imam Syafi’i maka dalam ranah hidupmu adakah karya monumental itu sebagai persembahan kepada rakyat dunia?

Diposting Oleh: Dewi Laela Hilyatin.
Dan zamanpun terus berlalu meringkas cerita umat manusia, lalu bagaimana dengan dunia Islam sendiri dalam budaya menulisnya?. Islam sebagai suatu ajaran komprehensif ternyata bukan saja membahas permasalahan agama an sich, namun jauh melingkupi segenap disiplin-disiplin ilmiah lainnya. Ajaran sosial budaya, matematika, pendidikan, ekonomi, sejarah, geologi, fisika, antropologi, astronomi dan metafisika adalah sub-sub ajaran yang termuat di dalam ajaran Islam. Hal ini penting dipahami karena pemahaman manusia selama ini hanya menjadikan agama sebagai stigma atas ajaran Islam. Suatu disiplin ilmu yang selama ini direkam oleh pengetahuan manusia akan menemui jalan buntu ketika dipisahkan dengan ajaran Islam itu sendiri, apapun itu sekalipun berupa ilmu terpopuler sekalipun. Dalam disiplin ilmu fisika misalnya, terdapat kebuntuan berfikir apabila menjadi suatu disiplin ilmu yang mandiri. Fisika adalah ilmu yang sangat menekankan logika sebab akibat (causality), namun ada hikmah yang dapat kita pelajari dari sifat disiplin ilmu fisika tersebut.
Ceritanya begini, suatu ketika seorang guru fisika SMU bertanya kepada murid-murid dikelasnya tentang siklus hujan di bumi. Maka serempak para murid menjawab bahwa hujan disebabkan oleh penguapan air di bumi akibat panas matahari. Ketika sang guru mencecar dengan bertanya, apakah yang menyebabkan matahari mengeluarkan panas, maka dengan serempak pula para murid menjawab bahwa gas heliumlah sebagai penyebab timbulnya panas atau api yang menyelubungi matahari. Namun tahukah anda apakah sebab gas helium itu ada? Ilmu fisika modernpun bakal bungkam demi menjawab hal ini, sebagaimana ketidakmampuannya menjawab apakah api itu?. Cerita di atas merupakan suatu ilustrasi tentang bahayanya ilmu apabila tercerabut dari ajaran Islam yang integral atas segala disiplin ilmu.
Ilmu adalah ruh yang bermukim di dalam aksara wacana. Artinya bahwa budaya menulis telah sangat berjasa mewariskan informasi demi informasi dari suatu generasi kepada generasi selanjutnya hingga sekarang ini.
Riwayat Karya Tulis dalam Dunia Islam
Menelusuri sejarah guna mencari manakah yang terlebih dahulu ada antara menulis dengan membaca adalah sama saja dengan mencari jawaban lebih tua mana antara telur dengan ayam. Secara logika memang akan dipahami bahwa tanpa suatu redaksi tulisan maka mustahil wacana yang dimaksud akan terbaca. Dilema yang serupa justru pernah dialami sendiri oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika pertama kali menerima wahyu. Dapat anda bayangkan bagaimana ‘bingung’nya setiap kita apabila suatu ketika di tengah pekatnya gua di gurun Arabia kemudian diperintah oleh malaikat Jibril untuk ber’iqra’, sementara di depan anda tidak tergelar aksara tulisan sama sekali. Belum lagi bagaimana rasa ngeri yang akan anda derita akibat ‘intimidasi’ sosok malaikat Jibril yang wajahnya saja konon selebar langit malam, saya jamin anda pasti akan menderita shock dan trauma. Harus kita akui memang bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan sosok jempolan yang layak kita teladani keberaniannya.
Penulisan Al-Qur’an al-Karim adalah sejarah awal upaya kodifikasi umat Islam, hal ini terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Momentum kodifikasi firman-firman Allah SWT inilah yang kemudian menginspirasikan karya kodifikasi Hadits pada abad kedua Hijriyah. Bila kodifikasi Al-Qur’an lebih dikarenakan semakin langkanya para hafidz Qur’an akibat peperangan, maka alasan utama upaya kodifikasi al-Hadits lebih cenderung diakibatkan semakin banyaknya para periwayat Hadits yang meninggal dunia akibat faktor usia. Kelak, hasil ke dua upaya kodifikasi inilah yang menjadi mata air inspirasi bagi karya-karya ilmiah para Ulama dan Shalihin sesuai dengan kepakarannya hingga dewasa ini.
Menulis; Budaya yang Pernah Hilang
Seorang penulis pastilah seorang pembaca yang tekun, namun sebaliknya seorang pembaca belum tentu mampu menjadi penulis yang handal. Menulis adalah keterampilan mentransformasi pemikiran dan gagasan kepada orang lain. Dan dalam sejarah kelam umat Islam, penjajahan dan peperangan adalah penyebab utama bagi matinya budaya intelektual dan menulis. Kolonialisme, peperangan dan konflik politik telah tercatat dalam sejarah umat Islam sebagai api yang menghanguskan kreativitas berfikir dari kalangan Ulamanya.
Ulama adalah standar mutu suatu karya tulisan. Predikat ini tidak harus disandang oleh seseorang dengan spesifikasi pemahaman pada ajaran Islam sebagai agama saja, namun juga dapat disandang oleh mereka yang ahli dibidang-bidang lainnya di luar agama. Namun demikian Ulama dengan keahlian diluar bidang agama haruslah memiliki dasar pemahaman tentang agama yang mapan. Tentu sangatlah menggelikan apabila terdapat seseorang yang sangat memahami di seputar ekonomi Islam namun membaca Al-Qur’an saja masih tergagap-gagap. Dari pemahaman tersebut memang tidak mudah untuk menjadi Ulama yang sempurna (‘amiliin).
Mana Karya Tulismu?
Bila gajah mati meninggalkan gadingnya, maka demikian pula manusia mati meninggalkan karya sebagai monumen eksistensinya di dunia. Bila ranah agama digemparkan dengan Al-Qur’an, ranah tasawwuf dengan Ihya’ Ulumuddinnya Imam Ghazali, ranah politik dengan Ahkamus Sulthoniyyahnya Imam dan ranah fiqh dengan Al-Umm karya Imam Syafi’i maka dalam ranah hidupmu adakah karya monumental itu sebagai persembahan kepada rakyat dunia?
Diposting Oleh: Dewi Laela Hilyatin.
menarik.. cukup untuk membakar jiwa-jiwa yang kering dari karya dalam hidupnya.
ReplyDelete